Hidrogen Hijau Belum Banyak Digunakan Karena Biaya Listriknya Mahal
CEO Institute for Essential Services Forum (IESR) Fabby Tumiwa menyebut tingginya harga listrik menjadi salah satu faktor penghambat pemanfaatan hidrogen hijau. Jika harga listrik energi terbarukan bisa di bawah 4 sen/kWh, hidrogen hijau baru bisa bersaing dengan grey hydrogen atau hidrogen dari bahan bakar fosil.
“Ini tantangan, bagaimana kita bisa menurunkan harga listrik energi terbarukan,” kata Fabby, dalam diskusi Indonesia Energy Transition Dialogue 2025, di Jakarta, Rabu (8/10).
Untuk memproduksi hidrogen, diperlukan energi listrik guna memecah molekul air melalui proses elektrolisis. Khusus untuk hidrogen hijau, energi listrik ini harus bersumber dari energi terbarukan.
Hal ini juga disampaikan Direktur Utama PT Pertamina NRE, John Anis, dalam kesempatan yang sama. “Harga green hydrogen itu 80% dari harga listriknya. Jadi kalau harga listriknya turun, harapannya harga green hydrogen-nya juga turun,” kata John Anis.
Regulasi untuk Memasifkan Penggunaan Hidrogen
Menurut Fabby, untuk membuat hidrogen hijau dapat bersaing dan memenuhi kebutuhan pasar, perlu regulasi yang membuat harga listrik energi terbarukan menjadi murah. Salah satunya penerapan carbon pricing.
“Ketika ada carbon pricing, kemudian grey hidrogen yang komponen karbonnya besar itu kena, mau enggak mau memaksa user melihat alternatif green hydrogen,” jelasnya.
Fabby menambahkan, faktor penghambat lainnya adalah perkembangan teknologi efisiensi elektroliser. Efisiensi ini menentukan berapa banyak hidrogen yang bisa dihasilkan.
Saat ini, elektroliser jenis proton exchange membrane sudah lebih efisien dan lebih murah. Namun, sepuluh tahun lalu harganya lebih mahal meskipun efisiensinya rendah. Kemudian, ada pula teknologi solid oxide electrolyzer yang masih dikembangkan.
Terakhir, persoalan demand atau permintaan. Keberadaan permintaan ini akan menentukan pembangunan infrastruktur pendorong produksi. Pada akhirnya, infrastruktur ini akan memangkas biaya transportasi dan penyimpanan yang juga masih tergolong tinggi.
Guru Besar Teknik Mesin UGM, Deendarlianto, juga menyebut aspek penyimpanan hidrogen ini mengambil porsi biaya cukup banyak. "Kalau bicara dari structure cost-nya, itu lebih dari 40% storage," ujarnya.
Akan tetapi, dengan inovasi dan pengembangan teknologi, biaya pada aspek ini bisa diturunkan bersama dengan tingkat keamanan yang semakin baik.
