Guru Besar UGM: Biaya Energi Terbarukan Terus Turun, Jadi Peluang bagi Industri

Ajeng Dwita Ayuningtyas
8 Oktober 2025, 16:54
energi terbarukan, biaya energi, listrik
Katadata/Ajeng Dwita Ayuningtyas
Guru Besar Teknik UGM Deendarlianto, bersama panelis lainnya di Indonesia Energy Transition Dialogue 2025, Jakarta, Rabu (8/10).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Guru Besar Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada, Deendarlianto, menegaskan Indonesia perlu optimis beralih ke hidrogen hijau, berbekal penurunan biaya energi terbarukan yang diprediksi terus berlanjut. Hal ini akan membuka peluang bagi pertumbuhan industri hijau di tanah air.  

Deendarlianto mengatakan biaya energi dari panel surya, misalnya, yang mengalami tren penurunan. “Sekarang tinggal seberapa besar industri bisa menangkap peluang itu,” kata Deendarlianto, dalam diskusi Indonesia Energy Transition Dialogue 2025, di Jakarta, Rabu (8/10).

Energi dari sumber terbarukan ini digunakan untuk membentuk hidrogen hijau melalui proses elektrolisis. Oleh karena itu, harga listrik energi terbarukan ini juga memengaruhi harga hidrogen hijau.

Deen menambahkan, pengembangan teknologi dari anak bangsa juga membantu formulasi teknologi yang lebih hemat. Meskipun untuk saat ini, pengembangan teknologi masih harus bekerja sama dengan mitra internasional. 

Prioritas untuk Industri Metal dan Pupuk

Deen menambahkan, peralihan menuju energi bersih perlu segera dilakukan industri-industri dalam negeri. Ini berkaitan dengan regulasi di lingkup internasional, terutama di Eropa, yaitu pemberlakuan carbon border adjustment mechanism. 

“Eropa, terutama Eropa Barat, tidak akan menerima produk metal, pupuk, dan produk lain jika produksinya menggunakan energi fosil dari hulu sampai hilir,” jelas Deen.

Kalaupun produknya diterima, pajak karbon yang dikenakan akan sangat tinggi. Nilainya bisa mencapai US$ 100 atau Rp 1,6 juta (kurs Rp 16.570/US$) per ton. 

Regulasi ini dijadwalkan berlaku mulai tahun depan. Karena itu, industri metal dan pupuk harus segera beralih sepenuhnya ke energi bersih agar tetap bisa bersaing di pasar Eropa. Salah satunya dengan memanfaatkan hidrogen hijau. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...