Pemerintah Masih Pertimbangkan Negara Mitra Untuk Bangun PLTN
Penasihat Presiden Urusan Energi, Purnomo Yusgiantoro, mengungkapkan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia telah masuk dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Namun, keputusan final mengenai negara mitra dan lokasi pembangunan masih dalam tahap evaluasi yang ketat.
Purnomo mengatakan rencana PLTN yang tercantum di RUKN mencakup kapasitas 500 MW, terdiri atas 250 MW tahap pertama dan 250 MW tahap lanjutan. Pemerintah tengah mengevaluasi teknis dan strategis, termasuk menilai negara-negara yang mengajukan minat.
“Tempatnya sedang kita evaluasi, memang ada beberapa negara yang sedang kita lihat. Pengkajian yang dilakukan dari kami adalah menggunakan benefit cost,” katanya kepada Katadata.co.id, Kamis (20/11).
Analisis biaya-manfaat tidak hanya melihat aspek yang kasat mata, tetapi juga keuntungan non-tangible yang seringkali menentukan keberlanjutan proyek. “Benefit cost-nya itu tidak hanya yang kasat mata, tapi juga keuntungan lain yang mesti dilihat,” ujar Purnomo.
Namun, keputusan akhir pemerintah tidak hanya mempertimbangkan faktor keekonomian atau teknologi, tetapi juga bersifat geopolitik. Pemerintah perlu memilih negara mitra yang tepat berdasarkan kepentingan strategis jangka panjang.
“Untuk keputusan geopolitik itu kami serahkan. Karena belum dibangun, kami mesti hati-hati,” ujarnya.
Purnomo mengungkapkan ada tujuh negara yang menawarkan kerja sama pembangunan PLTN: Rusia, Amerika Serikat, Jepang, Cina, Jerman, dan Korea Selatan. “Dari tujuh negara itu, ujung-ujungnya geopolitik. Mau lihat BRICS atau yang lain? Itu perintah Presiden,” ujarnya.
Minat Internasional Semakin Besar
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat terdapat enam negara menunjukan ketertarikanya untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan enam negara tersebut berasal dari benua Asia, Eropa, dan Amerika.
“Komunikasi (pembangunan PLTN) dengan berbagai negara, seperti US (Amerika Serikat), Rusia, Denmark, Kanada, UK (Inggris), dan Cina,” ujarnya.
Eniya mengatakan komunikasi tersebut dilaksanakan negara tersebut kepada beberapa institusi di Indonesia, seperti PT PLN (Persero), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dewan Energi Nasional, dan Kementerian ESDM.
