Proyek PGE Masuk Blue Book Bappenas, Tambah 215 MW Listrik Rendah Emisi
Empat proyek strategis panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) tercatat dalam Blue Book Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) 2025-2029. Realisasi proyek ini diperkirakan menambah 215 MW kapasitas listrik rendah emisi.
Penetapan ini didasarkan pengajuan resmi PGE untuk mengembangkan potensi panas bumi dalam proses transisi energi nasional.
Empat proyek PGE yang masuk dalam Blue Book memiliki karakteristik serta peran strategis yang berbeda. Lumut Balai Unit 3 dengan belanja modal (capital expenditure atau capex) US$305 juta (Rp 5,08 triliun) dan Lumut Balai Unit 4 dengan belanja modal US$ 290 juta (Rp 4,83 triliun) akan memperkokoh klaster pengembangan panas bumi PGE di Sumatra Selatan.
Sementara itu, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I dengan belanja modal US$ 227 juta (Rp 3,78 triliun) akan menambah pasokan energi bersih di Provinsi Lampung. Proyek geotermal ini menerapkan teknologi two-phase binary yang menawarkan efisiensi lebih tinggi.
Di Sulawesi Utara, proyek Lahendong Unit 7–8 & Binary dengan belanja modalUS$ 274 juta (Rp 4,56 triliun) memperluas pengembangan panas bumi di salah satu wilayah dengan potensi geotermal terbesar di Indonesia.
Total nilai investasi untuk keempat proyek ini mencapai lebih dari US$ 1,09 miliar (Rp 18,1 triliun). Operasional proyek direncanakan bertahap, mulai 2029 hingga 2032. Ini sekaligus mendukung komitmen perusahaan untuk mengembangkan potensi 3 GW panas bumi.
“Pengembangan proyek-proyek ini tidak hanya meningkatkan bauran energi terbarukan nasional, tetapi juga menghadirkan multiplier effects bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi, mulai dari penciptaan lapangan kerja baru hingga bertumbuhnya aktivitas ekonomi lokal,” kata Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, Edwil Suzzandi, dikutip dari keterangan resmi pada Jumat (5/12).
Keempat proyek juga berpotensi memperoleh pendanaan luar negeri melalui skema indicative concessional loan dengan nilai mencapai US$ 613 juta (Rp 10,2 triliun). Potensi sumber berasal dari sejumlah lembaga multilateral seperti World Bank, Asian Development Bank, Japan Bank for International Cooperation, atau Japan International Cooperation Agency.
Dampak Ekonomi Signifikan
PGE memperkirakan, empat proyek tersebut akan memberi dampak ekonomi signifikan. Melalui skema Subsidiary Loan Agreement (SLA), yakni mekanisme pinjaman terusan dari salah satu lembaga multilateral kepada Pemerintah Indonesia yang menawarkan pembiayaan berbiaya rendah dan berjangka panjang, kelayakan ekonomi proyek menjadi semakin kuat.
Skema pembiayaan ini berpotensi meningkatkan Internal Rate of Return (IRR) proyek sebesar 1–3%, sehingga memberikan nilai tambah bagi perusahaan sekaligus memastikan keberlanjutan investasi jangka panjang.
Tahap selanjutnya, PGE akan memasuki proses negosiasi dengan lembaga multilateral untuk memperoleh syarat pendanaan paling optimal termasuk struktur pembiayaan, tingkat suku bunga, tenor, serta persyaratan teknis dan lingkungan. Upaya ini diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan proyek secara efektif dan berkelanjutan.
