Harga BBM Mahal, Warga Eropa Memburu Kendaraan Listrik

Hari Widowati
13 April 2026, 15:07
Eropa, kendaraan listrik
Katadata/Hari Widowati/Chatgpt
Ilustrasi. Minat warga Eropa untuk membeli kendaraan listrik baru maupun bekas meningkat sejak perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel pecah pada Februari lalu.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Minat masyarakat Eropa untuk membeli mobil listrik melonjak sejak dimulainya perang di Iran. Kenaikan harga bensin semakin menonjolkan keunggulan kendaraan listrik karena biaya bahan bakar yang lebih murah.

Platform jual beli daring (online) di Inggris, Jerman, Prancis, dan Spanyol melaporkan lonjakan besar dalam jumlah pencarian mengenai kendaraan listrik sejak dimulainya konflik pada Februari.

Perang di Iran menyebabkan kenaikan harga bensin yang cepat dan protes di seluruh dunia, sementara harga listrik tidak terpengaruh seburuk itu.

Serangan pertama Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari lalu menyebabkan gejolak di pasar komoditas global. Pasalnya, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz, rute kunci untuk ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah.

Mobile.de, pasar mobil daring terbesar di Jerman, mengatakan harga bahan bakar yang tinggi telah menjadi “pemicu” bagi “ledakan mobil listrik”.

Ajay Bhatia, Kepala Eksekutif Mobile.de, mengatakan pasar mobil baru dan bekas untuk kendaraan listrik meningkat lebih dari 50% pada bulan Maret dibandingkan dengan Februari 2026. Permintaan untuk mobil bensin dan diesel menurun selama periode yang sama. Adapun permintaan untuk mobil hibrida yang menggabungkan mesin dengan baterai yang lebih kecil naik tipis sebesar 4%.

Volkswagen ID.3 menjadi mobil listrik paling populer. Secara keseluruhan, permintaan mobil listrik juga meningkat dibandingkan tahun lalu berkat subsidi pembelian yang lebih besar sebesar €6.000 (Rp 120,05 juta dengan kurs Rp 20.010 per euro) dari Berlin.

Bhatia mengatakan harga solar sebesar €2,50 (Rp 50.023) per liter di Jerman memberikan dorongan kuat bagi masyarakat untuk beralih ke kendaraan nol emisi, yang sebelumnya mengalami kesulitan di negara penghasil mesin pembakaran internal terbesar di Eropa.

“Apa yang tidak bisa dilakukan oleh transisi energi Jerman, hampir dilakukan oleh realitas ekonomi,” ujar Bhatia, seperti dikutip The Guardian.

Carwow -platform yang menghubungkan pembeli dengan diler di Inggris, Spanyol, dan Jerman- melaporkan peningkatan 20% hingga 30% dalam permintaan informasi tentang mobil listrik di ketiga pasar tersebut antara Februari dan Maret 2026. Di Inggris, permintaan mobil listrik naik 23% dalam sebulan, sementara minat terhadap mobil hibrida naik 19%.

“Kami telah melihat pergeseran menjauh dari mesin pembakaran internal selama beberapa waktu,” kata Iain Read, Direktur Konten Carwow.

Ia mengatakan Perang Iran membuat proses peralihan dari kendaraan bahan bakar minyak (BBM) ke kendaraan listrik berlangsung semakin cepat. "Konsumen khawatir tentang biaya hidup dan ingin menekan tagihan rutin mereka,” kata Read.

Pendaftaran Kepemilikan Mobil Listrik Melonjak

Data yang dirilis pekan lalu oleh Society of Motor Manufacturers and Traders (SMMT) menunjukkan pada Maret lalu, jumlah pendaftaran mobil listrik baterai —yang didasarkan pada penjualan beberapa bulan sebelum pecahnya konflik— mencapai 86.120 unit. Angka ini menandai lonjakan sebesar 24,2% dibandingkan dengan bulan yang sama tahun lalu dan merupakan rekor tertinggi.

La Centrale, salah satu pasar mobil terbesar di Prancis, mengatakan pencarian untuk kendaraan listrik telah meningkat sebesar 160% antara awal Maret dan awal April 2026.

“Pengemudi sangat peka terhadap harga energi dan mereka mencari alternatif,” kata Guillaume-Henri Blanchet, Wakil Kepala Eksekutif La Centrale. Menurutnya minat terhadap kendaraan listrik bekas juga meningkat.

AutoScout24, platform pasar daring lainnya, menyebutkan permintaan mobil listrik naik sekitar 40% di Jerman, Austria, dan Italia, sementara permintaan mobil berbahan bakar bensin dan solar tetap stabil atau menurun.

Bagi industri otomotif, khususnya bagi produsen yang telah gencar melobi agar target kendaraan listrik diturunkan, pertanyaannya adalah apakah peningkatan minat ini akan bertahan lama.

“Menurut saya, ini adalah lonjakan yang akan turun, tetapi tidak akan turun sepenuhnya,” kata Bhatia dari Mobile.de.

Permintaan mobil listrik akan stabil pada “level normal baru yang lebih tinggi daripada sebelumnya” – didukung oleh perbaikan infrastruktur pengisian daya dan harga kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) yang lebih rendah.

Ian Plummer, Kepala Layanan Pelanggan di Autotrader di Inggris, mengatakan lonjakan harga bensin sebelumnya tidak menyebabkan peningkatan pembelian mobil listrik yang berkelanjutan. “Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan untuk memastikan konsumen yakin bahwa mobil listrik dapat sesuai dengan gaya hidup mereka.”

Blanchet dari La Centrale mengatakan krisis energi ini akan meninggalkan bekas pada konsumen. "Kenaikan harga bensin telah menyebabkan konsumen benar-benar menyadari total biaya kepemilikan. Mereka bersedia mempertimbangkan biaya awal yang lebih tinggi jika biaya pengisian daya mobil akan lebih rendah dalam jangka panjang," ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...