Pakar ITB Ingatkan Risiko Pasokan Listrik Saat El Nino Tekan PLTA
Pengamat sekaligus Pakar Sistem Tenaga Listrik STEI ITB Kevin Marojahan Banjar Nahor memperingatkan kemarau yang lebih kering akibat El Nino menjadi tantangan bagi sistem kelistrikan nasional.
Saat cuaca kering dan panas, penggunaan sistem pendingin seperti AC akan melonjak. Sedangkan, pasokan listrik berisiko turun karena berkurangnya produktivitas pembangkit seperti pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
“Debit air menyusut tajam, mengancam produktivitas PLTA besar seperti Cirata dan Saguling di Jawa Barat,” tulis Kevin, dalam unggahan di akun Instagram ITB @itb1920, dikutip pada Rabu (24/6).
Melansir laman Transisi Energi Berkeadilan yang dikelola lembaga pegiat lingkungan Cerah, Sulawesi Selatan sempat gelap gulita akibat anomali cuaca El Nino pada 2023. Pasalnya, lebih dari 35 persen listrik di provinsi tersebut bergantung pada energi air, di antaranya dari PLTA Bili-bili di Gowa.
Selama debit air waduk turun drastis, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) juga belum bisa diandalkan sepenuhnya. Sebab, El Nino turut melemahkan angin.
Tak terbatas di Sulawesi, selama 2012 hingga 2019, terdapat enam PLTA di Jawa Tengah dan empat PLTA di Sumatra yang mandek karena kekurangan pasokan air. Akibatnya, pemadaman bergilir dilakukan karena minimnya pasokan pengganti.
Dalam penelitian yang dirilis tahun 2023 bertajuk The Climate and Land-use Changes Impact on Water Availability for Hydropower Plants in Indonesia, produktivitas PLTA di Indonesia terancam menurun bukan hanya karena faktor iklim tapi akibat hilangnya tutupan hutan di sekitar PLTA.
Atas dasar ini, Cerah menyarankan agar pemerintah mempertimbangkan ulang proyek pembangkit energi terbarukan skala besar yang terpusat.
Dorongan Akselerasi PLTS Atap
Dalam riset terbaru bertajuk Unlocking Solar Energy Demand: Peran Strategis PLTS Atap dan Power Wheeling dalam Mencapai 100 GW Energi Surya, Yayasan Kesejahteraan Berkelanjutan Indonesia (Sustain) merekomendasikan diversifikasi energi dengan mengoptimalkan energi surya.
Alasannya, sistem listrik terpusat dan didominasi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, dinilai rawan tumbang. Sustain menawarkan dua solusi, yaitu desentralisasi sistem listrik dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap dan skema power wheeling.
“Ketika jaringan utama PLN mengalami gangguan teknis atau kelebihan beban, pasokan listrik di titik-titik konsumen tetap aman karena ditopang energi surya mandiri,” ujar Direktur Eksekutif Sustain, Tata Mustasya, dikutip dari keterangan resmi pada Selasa (23/6).
PLTS Atap seperti menciptakan bantalan atau buffer di level tapak. Untuk mendorongnya, diperlukan regulasi dan insentif yang mendukung industri hingga masyarakat.
Selain PLTS Atap, kebijakan power wheeling juga bisa jadi opsi. Power wheeling adalah hak pemanfaatan bersama jaringan transmisi PLN oleh produsen listrik swasta, berbasis energi terbarukan. “Saat ini banyak industri yang ingin beralih ke energi bersih tetapi terhambat oleh keterbatasan pasokan hijau dari PLN,” kata Tata.
Dengan power wheeling, produsen energi surya skala besar dapat menyalurkan energi bersihnya langsung ke konsumen atau industri dengan jaringan yang ada.
Di samping mempercepat pencapaian target 100 GW energi surya, skema ini bisa sekaligus mengurangi beban investasi hulu PLN. Alhasil, perusahaan listrik milik negara ini bisa fokus menjaga keandalan dan perawatan jaringan transmisi utama untuk mencegah pemadaman massal.
Dalam skenario akseleratif, Sustain menghitung bahwa penambahan kapasitas energi surya sekitar 11,4 GWp dalam waktu relatif singkat dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pencapaian target pembangunan PLTS nasional sebesar 17 GW dalam tiga tahun tanpa semakin membebani keuangan negara.
