Ekspor Listrik Masuk Babak Baru, Singapura Siapkan Backup Cegah Listrik Padam

Martha Ruth Thertina
7 Juli 2026, 14:08
Singapura berencana mengimpor 6 gigawatt (GW) listrik rendah karbon pada 2035, sekitar sepertiga kebutuhan listrik nasionalnya. Lebih dari separuhnya, atau sekitar 3,4 GW, diharapkan berasal dari Indonesia.
www.visitsingapore.com
Singapura berencana mengimpor 6 gigawatt (GW) listrik rendah karbon pada 2035, sekitar sepertiga kebutuhan listrik nasionalnya. Lebih dari separuhnya, atau sekitar 3,4 GW, diharapkan berasal dari Indonesia.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Proyek ekspor listrik hijau Indonesia ke Singapura akhirnya menunjukkan kemajuan setelah bertahun-tahun melewati negosiasi alot. 

Dalam Leaders' Retreat Indonesia-Singapura di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (7/7), kedua negara menyepakati penyusunan peta jalan perdagangan listrik lintas batas, sedangkan Danantara meneken nota kesepahaman dengan Singapore Energy Interconnections (SGEI), perusahaan yang dibentuk pemerintah Singapura untuk mempercepat pembangunan jaringan transmisi listrik lintas negara.

Kesepakatan tersebut bernilai penting karena menyangkut rencana Singapura mengimpor 6 gigawatt (GW) listrik rendah karbon pada 2035, sekitar sepertiga kebutuhan listrik nasionalnya. Lebih dari separuhnya, atau sekitar 3,4 GW, diharapkan berasal dari Indonesia.

Hingga saat ini, Otoritas Energi Singapura atau Energy Market Authority (EMA) telah memberikan persetujuan bersyarat (conditional approval) kepada 11 proyek impor listrik rendah karbon dari Australia, Kamboja, Indonesia, Sarawak (Malaysia), dan Vietnam.

"Dari jumlah tersebut, enam proyek telah menunjukkan kemajuan yang signifikan sehingga memperoleh izin bersyarat (conditional licence)," tulis EMA, dikutip Selasa (7/7).

Enam proyek yang telah mengantongi conditional licence tersebut seluruhnya di Indonesia. Izin bersyarat ini merupakan tahap akhir sebelum perusahaan memeroleh import licence untuk membangun dan mengoperasikan proyek listrik untuk Singapura. Pemberian import license bergantung pada perizinan dari negara asal.  

Peta Listrik Impor Singapura

Peta Listrik Impor Singapura (EMA)

 

Enam proyek tersebut digarap oleh perusahaan/joint venture milik konglomerat Indonesia, perusahaan investasi Singapura, perusahaan migas asing, hingga BUMN Cina. Seluruhnya mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya yang dipadukan dengan sistem penyimpanan energi baterai (battery energy storage system/BESS) di Riau dan Kepulauan Riau. Listrik akan dialirkan ke Singapura melalui kabel bawah laut.

Untuk mempercepat realisasi proyek, pemerintah Singapura telah membentuk Singapore Energy Interconnections (SGEI) yang mulai beroperasi pada April 2025. Perusahaan itu ditugaskan mendanai, membangun, memiliki, dan mengoperasikan infrastruktur transmisi listrik lintas negara.

Daftar Perusahaan Pemegang Izin Bersyarat Impor Listrik ke Singapura

Daftar Perusahaan Pemegang Izin Bersyarat Impor Listrik ke Singapura (EMA, Berbagai Sumber)

Singapura Siapkan Backup, Cegah Listrik Padam Karena Gangguan

Singapura menargetkan listrik impor dari proyek-proyek tersebut mulai mengalir secara bertahap pada 2028. Sekarang, pekerjaan rumahnya bukan hanya menyelesaikan negosiasi dan membangun kabel bawah laut. Negara Merlion juga harus memastikan sistem kelistrikannya tidak tumbang ketika pasokan impor terganggu, salah satunya dengan menyiapkan pembangkit cadangan.

EMA menyebut impor listrik jauh lebih berisiko dibandingkan pembangkit gas yang berada di Singapura. Bila satu PLTG (combined cycle gas turbine atau CCGT) di Singapura rusak, biasanya bisa diperbaiki dalam hitungan hari atau minggu.

Namun, bila kabel bawah laut putus, gardu di negara pemasok bermasalah, atau pembangkit di luar negeri mengalami gangguan, perbaikannya bisa memakan waktu hingga berbulan-bulan.

"Singapura tetap harus memiliki kapasitas pembangkit cadangan (backup capacity) di dalam negeri yang siap menyuplai listrik dengan cepat dan mampu bertahan selama berbulan-bulan bila impor terganggu," demikian tertulis dalam situs EMA. 

Merujuk pada dokumen submission requirement for electricity imports proposals, untuk menjamin keandalan pasokan, Singapura mewajibkan setiap proyek impor listrik didukung kapasitas pembangkit cadangan (backup capacity) lokal yang siap beroperasi jika pasokan listrik impor terganggu. 

"Importir tidak perlu membangun pembangkit cadangan sendiri. EMA akan mengadakan satu pool pembangkit cadangan terpusat yang diperoleh dari pasar dan dapat digunakan oleh seluruh proyek impor listrik," demikian tertulis. Nantinya, importir hanya perlu membayar biaya listrik cadangan. 

Saat ini, EMA masih berkonsultasi dengan pelaku industri untuk menentukan teknologi yang paling andal dan efisien dari segi biaya dalam menyediakan kapasitas pembangkit cadangan. Karena kapasitas maupun biaya akhirnya belum ditetapkan, EMA meminta pengembang proyek memperhitungkan biaya cadangan sebesar 15 dolar Singapura per MWh sebagai asumsi awal. 

"Tarif final baru akan ditetapkan setelah EMA menyelesaikan pengadaan kapasitas cadangan dan dapat berubah mengikuti biaya penyediaannya,' demikian tertulis. 

Dalam dokumen konsultasi publik, EMA menjabarkan sejumlah opsi teknologi yang dipertimbangkan untuk menyediakan kapasitas cadangan.

Baterai penyimpanan energi (BESS) dan skema demand response akan menjadi lapis pertama untuk menjaga stabilitas sistem sesaat setelah pasokan impor terganggu. Setelah itu, pembangkit listrik berbahan bakar gas akan mengambil alih pasokan. Jika gangguan berlangsung hingga berbulan-bulan, pembangkit gas akan terus beroperasi hingga jaringan atau pembangkit di negara pemasok kembali normal.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...