Negara-negara akan Kumpulkan Pendanaan Lingkungan US$ 200 Miliar
Sekumpulan negara bertemu di Roma, Italia pekan lalu untuk menyetujui rencana pembiayaan sebesar US$ 200 miliar (Rp 3.316 triliun) per tahun pada 2030 untuk menghentikan kerusakan lingkungan.
Pembicaraan COP16 PBB tentang keanekaragaman hayati dimulai Oktober lalu di Kolombia. Namun, pada saat itu negara-negara gagal mencapai kesepakatan tentang elemen kunci, termasuk siapa yang akan berkontribusi, bagaimana uang tersebut akan dikumpulkan, dan siapa yang akan mengawasinya.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengurangi keterlibatan negaranya dalam pembiayaan iklim. Kesepakatan yang dicapai negara-negara pada Kamis (27/2) lalu, menjadi dorongan yang disambut baik untuk perjanjian global.
Pertemuan itu dipimpin negosiator dari negara-negara yang dikenal sebagai BRICS, yakni Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selatan. Kesepakatan akhir melihat para delegasi menyetujui rencana untuk mengumpulkan dana setidaknya US$ 200 miliar (Rp 3.316 triliun) per tahun dari berbagai sumber untuk melindungi alam.
Presiden COP16 dan Menteri Lingkungan Hidup Kolombia, Susana Muhamad, menyambut baik kesepakatan tersebut sebagai kemenangan bagi alam dan multilateralisme di saat lanskap politik semakin terfragmentasi dan gesekan diplomatik semakin meningkat.
"Dari Cali ke Roma, kami telah mengirimkan cahaya harapan bahwa masih ada kebaikan bersama, lingkungan, dan perlindungan kehidupan serta kemampuan untuk bersatu untuk sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan nasional adalah mungkin," kata Susana Muhamad, seperti dikutip Reuters, Sabtu (1/3).
Para delegasi juga sepakat untuk mengeksplorasi perlunya dana keanekaragaman hayati baru, seperti yang diminta oleh beberapa negara berkembang. Mereka juga mengkaji apakah dana yang sudah ada seperti yang dikelola oleh Global Environment Facility sudah cukup.
GEF menyediakan lebih dari US$ 23 miliar (Rp 381,34 triliun) untuk ribuan proyek alam dalam 30 tahun terakhir. "Semua orang dengan semangat kompromi membuat konsesi, dan secara umum bagi negara-negara berkembang hasilnya sangat positif," kata Maria Angelica Ikeda, Direktur Departemen Lingkungan di Kementerian Luar Negeri Brasil, kepada Reuters saat pleno ditutup pada Kamis malam.
Kebutuhan akan tindakan nyata semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Laporan Living Planet WWF 2024 menunjukkan ukuran rata-rata populasi satwa liar turun 73% sejak tahun 1970.
AS Diperkirakan Tidak Akan Ikut Dalam Putaran Pendanaan Berikutnya untuk GEF
Meskipun AS tidak pernah menjadi penandatangan konvensi keanekaragaman hayati, negara ini adalah salah satu penyandang dana terbesar untuk upaya perlindungan alam dan keanekaragaman hayati. Pembekuan bantuan luar negeri saat ini telah memiliki dampak luas, mulai dari penghentian upaya anti-perburuan di Afrika Selatan hingga pemotongan dana di organisasi konservasi besar.
Pemotongan ini juga menimbulkan kekhawatiran bahwa AS tidak akan berpartisipasi dalam putaran pendanaan berikutnya untuk GEF, yang sedang berlangsung. Bayangan pemotongan bantuan juga terasa di ruang negosiasi, memicu frustrasi di antara beberapa negara dari Brasil hingga Mesir dan Panama. Mereka cemas negara-negara kaya tidak memenuhi kewajiban mereka untuk memberikan uang hibah.
Data terbaru dari OECD memperkirakan total dana internasional untuk keanekaragaman hayati yang dicairkan pada tahun 2022 mencapai US$ 15,4 miliar (Rp 255,33 triliun). Sekitar 83% dari jumlah ini berasal dari sumber publik.
Kepala kebijakan Zoological Society of London, Georgina Chandler, mendesak pemerintah untuk memenuhi komitmen mereka sebesar US$ 30 miliar (Rp 497,4 triliun) per tahun pada 2030 untuk menghentikan dan membalikkan kehilangan keanekaragaman hayati.
Kesepakatan di Roma membantu merumuskan langkah-langkah yang diperlukan untuk menerapkan kesepakatan kerangka kerja keanekaragaman hayati global (GBF) Kunming-Montreal yang bersejarah. Kesepakatan itu mengikat negara-negara untuk mencapai berbagai target lingkungan.
Negara-negara juga menyetujui seperangkat aturan teknis untuk memantau kemajuan menuju GBF. Mereka juga mengamankan komitmen bagi negara-negara untuk menerbitkan laporan nasional tentang rencana keanekaragaman hayati mereka untuk pembicaraan COP17 tentang alam.
Pembicaraan ini berlangsung di awal tahun yang sibuk untuk diplomasi iklim internasional saat negara-negara bertemu di berbagai acara untuk membahas polusi plastik, pelestarian lautan, dan pencapaian tujuan pembangunan global. Hal ini terjadi delapan bulan menjelang pembicaraan iklim COP30 di Brasil pada November mendatang.
