Kemenkeu Siapkan Pendampingan Teknis untuk Startup Inisiatif Hijau

Hari Widowati
11 September 2025, 06:16
Kemenkeu, pembiayaan berkelanjutan
Katadata/Fauza Syahputra
Anthony Utomo, Ketua Komite Tetap EBT dan Konservasi Energi Bidang ESDM Kadin Indonesia; Boby Wahyu Hernawan, Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kemenkeu, dan Paul Butarbutar, Kepala Sekretariat JETP dalam diskusi panel Capital & Continuity: Sustainable Growth Amid Disruption, di Katadata SAFE 2025, di Jakarta, Rabu (10/9).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyiapkan pendampingan teknis untuk startup (perusahaan rintisan) yang bergerak di bidang inisiatif hijau, termasuk dalam pengembangan energi terbarukan. Pendampingan ini diberikan agar startup tersebut bisa mendapatkan pendanaan dari donor maupun investor.

Boby Wahyu Hernawan, Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kemenkeu, mengatakan Kemenkeu bekerja sama dengan negara mitra untuk mendampingi usaha ultramikro, mikro, hingga usaha kecil dan menengah (UKM) yang memiliki inisiatif hijau.

"Dimulai dengan grooming startup dari Sabang sampai Merauke. Level yang lebih tinggi, kita berikan pendampingan teknis. Mereka juga punya angel investor dan ini menjadi coordinated effort," ujar Boby dalam Plenary Session dengan tema Capital & Continuity: Sustainable Growth Amid Disruption, di Katadata SAFE 2025, di Jakarta, Rabu (10/9).

Setelah mendapatkan bantuan teknis ini, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) akan membantu mencarikan pendanaan bagi perusahaan-perusahaan rintisan ini, termasuk dari APBN. "APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) itu sifatnya katalitik, dana publik ini bisa me-leverage pengembangan renewable energy dan inisiatif-inisiatif hijau," ujar Boby.

Agus Sari, CEO Landscape Group, mengungkapkan pembiayaan untuk proyek-proyek hijau seharusnya lebih mudah didapatkan. Namun, kenyataan di lapangan tidak semudah itu.

"Yang punya proyek hijau kesulitan mencari dana, yang punya dana kesulitan mendapatkan proyek yang bagus," kata Agus Sari.

Ia memaparkan, pendanaan untuk proyek hijau dengan nilai di bawah Rp 1,5 miliar maupun proyek yang nilainya di atas US$ 1 juta (Rp 16,4 miliar) biasanya tidak sulit mendapatkan pendanaan. Namun, proyek dengan nilai yang berada di antara kisaran itu yang agak kesulitan meraih pendanaan.

"Masalahnya adalah struktur pendanaan. Padahal ada banyak pilihan, misalnya dengan penjaminan (guarantee) dan lain-lain," tuturnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...