Bisnis Sampah Rezycology Dilirik Investor Asing, Raup Pendanaan Rp 3,3 Miliar
Startup pengelolaan sampah Rezycology memeroleh pendanaan US$ 200 ribu atau setara Rp 3,3 miliar dari pemerintah Kanada dan perusahaan investasi yang berbasis di Singapura Impact Investment Exchange (IIX). IIX memang fokus berinvestasi pada bisnis yang berdampak positif untuk kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan alias impact investing.
CEO Rezycology Octalia Stefani menjelaskan perusahaan juga mendapatkan bantuan berupa pendampingan teknis alias technical assistance. “Jadi ini bukan hanya pendanaan, tapi juga dukungan pengembangan kapasitas bisnis,” ujar Fani kepada Katadata, Senin (12/1).
Pendanaan dan pendampingan ini merupakan bagian dari program Impact Investment Readiness in Indonesia (IIRI). Program ini adalah hasil kerja sama antara departemen urusan internasional Kanada yaitu Global Affairs Canada (GAC) dengan IIX.
Program IIRI bertujuan untuk memperkuat perusahaan yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, melalui pelatihan bisnis dan keuangan yang relevan dengan konteks lokal, dukungan kesiapan investasi, serta penguatan jejaring dengan investor dan lembaga keuangan.
Program ini diharapkan dapat membantu perusahaan yang memiliki misi sosial di Indonesia untuk tumbuh, mengakses modal, dan memperluas peluang usaha.
Rezycology sendiri ini memiliki sejumlah layanan. Dari mulai mengumpulkan sampah dari pemulung dan pengepul untuk diproses menjadi bahan baku yang siap digunakan pabrik daur ulang hingga layanan penanganan hingga digitalisasi pengelolaan limbah perusahaan. Startup ini juga punya program kepemilikan bersama pabrik daur ulang.
Fani menyebutkan, saat ini terdapat sekitar 3,7 juta pengepul yang menjadi bagian penting dalam rantai pengelolaan sampah nasional, namun masih bekerja dalam kondisi yang sangat informal.
“Kami berkolaborasi dengan teman-teman pengepul dan pemulung. Rezycology membantu mereka mendapatkan harga yang lebih kompetitif sesuai dengan kualitas material yang dikumpulkan,” jelasnya.
Rezycology mengembangkan aplikasi khusus untuk jual-beli sampah (aplikasi marketplace) dimana pengepul bisa memantau sampahnya. Di dalamnya, pengepul juga bisa mempelajari pergerakan harga. Semakin rendah tingkat kontaminasi, semakin tinggi harga jual material.
“Kalau kontaminasi bisa ditekan, harga naik, margin naik, dan pendapatan jadi lebih stabil. Dengan begitu, pekerjaan sebagai waste collector bisa menjadi lebih layak dan perlahan lebih formal,” ujar Fani.
