Kerusakan Lamun dan Ancaman Emisi Karbon dari Perairan Pesisir

Ajeng Dwita Ayuningtyas
20 Januari 2026, 12:52
Penanaman mangrove saat giat Mageri Segoro di Denasri Kulon, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (15/10/2025). BRIN memperingatkan ancaman emisi karbon dari rusaknya ekosistem pesisir.
ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra/bar
Penanaman mangrove saat giat Mageri Segoro di Denasri Kulon, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Rabu (15/10/2025). BRIN memperingatkan ancaman emisi karbon dari rusaknya ekosistem pesisir.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan risiko emisi karbon di balik rusaknya pesisir laut yang merupakan habitat lamun atau seagrass. Lamun mampu menyerap dan menyimpan karbon dioksida dalam jumlah besar sehingga  berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim.  

Berdasarkan riset BRIN, emisi karbon lamun di Indonesia berada pada rentang 0,53 sampai 3,25 ton karbon per hektare per tahun. Faktor emisi di Jawa dan sebagian Sumatra lebih tinggi dibandingkan kawasan pesisir lainnya seperti di Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, dan Maluku.

Faktor emisi merupakan nilai yang menggambarkan besaran karbon yang lepas ke atmosfer per satuan luas ekosistem per tahun akibat degradasi atau gangguan. Faktor emisi bisa jauh lebih besar, mengingat ini baru menghitung cadangan karbon pada daun dan akar. Padahal, cadangan karbon terbesar ada di sedimennya. 

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanologi BRIN A’an Johan Wahyudi menekankan pentingnya menjaga ekosistem pesisir untuk pengendalian emisi karbon nasional. “Dalam perhitungan karbon, yang dihitung bukan hanya yang diserap, tetapi juga yang diemisikan,” kata dia, dikutip dari keterangan resmi pada Selasa (20/1). 

Fungsi penyimpanan karbon dalam lamun dapat berubah ketika tumbuhan laut itu mengalami gangguan. Gangguan yang dimaksud bisa berasal dari aktivitas manusia di pesisir, seperti reklamasi, pengerukan, atau peningkatan sedimentasi. Pertumbuhan lamun akan terhambat dan memicu degradasi ekosistem. Kondisi ini justru membuatnya melepaskan emisi karbon.

Intinya, saat lamun sehat maka karbon akan diserap dan disimpan. Sedangkan ketika lamun rusak, rentan mengalami pembusukan yang membuatnya melepaskan karbon ke atmosfer. 

Lamun memiliki kemampuan untuk menyaring sedimen, namun kemampuannya terbatas. Oleh karena itu, apabila jumlah sedimen yang masuk terlalu besar, ekosistem akan tetap terganggu.

Aan menyarankan adanya regulasi yang kuat, implementasi yang konsisten, dan keterlibatan masyarakat di pesisir untuk menjaga pesisir. Masyarakat bisa dilibatkan dalam pengelolaan sampah dan pembangunan yang ramah lingkungan. Dia juga menekankan pentingnya sistem pemantauan yang mendalam dan jangka panjang atas ekosistem laut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...