Kemenperin Lihat Peluang Proyek 3 Juta Rumah Jadi Pasar Material Hijau

Ajeng Dwita Ayuningtyas
26 Januari 2026, 12:44
Foto udara deretan rumah subsidi di Kecamatan Medan Labuhan, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (1/11/2025). Pemprov Sumatera Utara terus melakukan akselerasi program 3 juta rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
ANTARA FOTO/Yudi Manar
Foto udara deretan rumah subsidi di Kecamatan Medan Labuhan, Medan, Sumatera Utara, Sabtu (1/11/2025). Pemprov Sumatera Utara terus melakukan akselerasi program 3 juta rumah subsidi untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian Apit Pria Nugraha melihat adanya peluang pemanfaatan material hijau untuk program 3 juta rumah.  Material hijau yang dimaksud yaitu material yang proses produksinya lebih ramah lingkungan. Dengan begitu, program 3 juta rumah bisa sekaligus mendorong pengembangan industri hijau.

Apit menjelaskan industri hijau membutuhkan permintaan (demand) untuk bisa tumbuh. Di sisi lain, ada demand untuk program 3 juta rumah. "Mungkin nanti kami harus kolaborasi, materialnya harus material yang hijau,” kata Apit, dalam Konferensi Pers Sustainability Business Updates 2026 oleh Semen Merah Putih, pekan lalu.

Program 3 juta rumah bertujuan untuk menyediakan rumah terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Program yang berada di bawah naungan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) ini bertujuan untuk mengatasi kekurangan pasokan atau backlog rumah yang mencapai 9,9 juta unit. Dan, mengatasi masalah 26,9 juta unit rumah tak layak huni. 

Guna mendorong berkembangnya industri hijau, Kementerian Perindustrian akan mengatur Standar Industri Hijau di berbagai sektor. Standar ini berkaitan dengan efisiensi bahan baku dan pendukung, penggunaan energi, proses dan hasil produksi, manajemen perusahaan, serta pengelolaan limbah dengan tepat.

Sebagai regulator, kata Apit, Kementerian Perindustrian memastikan standar tidak menurunkan daya saing produk. “Kami siapkan juga skema pembiayaan hijau, membangun ekosistem akses ke teknologi, dan seterusnya,” ujar dia. 

Konstruksi dan Operasional Bangunan Menyumbang 34 persen dari Total Emisi Dunia

Berdasarkan laporan Buildings and Construction Global Status Report 2024-2025 yang disusun oleh United Nations Environment Programme (UNEP), konstruksi dan operasional bangunan menjadi salah s atu kontributor terbesar emisi karbon, yaitu sekitar 34 persen dari total emisi CO2 dunia.

Emisi karbon terbesar berasal dari penggunaan energi saat bangunan beroperasi, yaitu mencapai 26 persen, lalu 5 persen dari penggunaan material seperti semen, baja, dan aluminium, serta kurang lebih 3 persen dari penggunaan kaca dan batu bata saat proses konstruksi. 

Kepala Sub Direktorat Wilayah I di Direktorat Pembangunan Perumahan Perkotaan Kementerian PKP Adji Krisbandono, mengaku belum pernah membicarakan hal ini sebelumnya, terutama dengan kementerian yang mengurusi industri.  “Nanti coba saya teruskan, karena trennya di 2027 itu kalau tidak salah semua industri sudah bergerak ke arah dekarbonisasi,” kata dia.   

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...