Monsun Australia Menguat, BMKG: Sejumlah Wilayah Mulai Masuki Kemarau

Ajeng Dwita Ayuningtyas
8 Mei 2026, 14:45
Sejumlah pengendara motor melintasi jalan yang diselimuti kabut asap di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (5/3/2026). Berdasarkan pernyataan BMKG pada awal Mei 2026, sejumlah daerah sudah memasuki musim kemarau.
ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/foc.
Sejumlah pengendara motor melintasi jalan yang diselimuti kabut asap di Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (5/3/2026). Berdasarkan pernyataan BMKG pada awal Mei 2026, sejumlah daerah sudah memasuki musim kemarau.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan penguatan angin Monsun Australia yang memicu cuaca terik di siang hari belakangan ini. Di sejumlah daerah, suhu maksimum bisa mencapai 35-37,1°C. 

Angin Monsun dari Australia membawa udara kering ke Indonesia dan mengurangi tutupan awan di pagi hingga siang hari. Fenomena ini diperkirakan menguat dalam sepekan ke depan dan menjadi salah satu indikasi bahwa beberapa wilayah mulai memasuki musim kemarau. 

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan, meski suhu maksimum harian di sebagian wilayah Indonesia bisa mencapai 31-37°C pada musim kemarau, kondisi ini belum tentu menandakan terjadinya gelombang panas. 

“Kondisi ini tidak serta-merta dapat disebut sebagai gelombang panas, karena perlu dilihat berdasarkan karakteristik klimatologis wilayah dan pola cuaca setempat,” kata Andri kepada Katadata, dikutip pada Jumat (8/5). 

Dia menjelaskan, gelombang panas merujuk pada kondisi saat suhu maksimum harian meningkat sekitar 5°C di atas normal klimatologis setempat. Kemudian, kondisi ini juga bertahan secara terus menerus selama setidaknya lima hari berturut-turut. 

“Di wilayah tropis seperti Indonesia, kondisi atmosfer secara alami tidak mendukung terjadinya gelombang panas atau heatwave dalam pengertian meteorologis,” ujarnya. 

Penyebabnya, cuaca di wilayah ini cenderung dinamis, hujan masih turun saat musim kemarau. Sebab itu, suhu tinggi jarang bertahan secara persisten.

BMKG memprediksi dinamika tinggi atmosfer dalam beberapa hari ke depan. Yang artinya, cuaca cerah bisa disertai potensi hujan dan angin kencang setelahnya. 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...