Monsun Australia Menguat, BMKG: Sejumlah Wilayah Mulai Masuki Kemarau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan penguatan angin Monsun Australia yang memicu cuaca terik di siang hari belakangan ini. Di sejumlah daerah, suhu maksimum bisa mencapai 35-37,1°C.
Angin Monsun dari Australia membawa udara kering ke Indonesia dan mengurangi tutupan awan di pagi hingga siang hari. Fenomena ini diperkirakan menguat dalam sepekan ke depan dan menjadi salah satu indikasi bahwa beberapa wilayah mulai memasuki musim kemarau.
Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan, meski suhu maksimum harian di sebagian wilayah Indonesia bisa mencapai 31-37°C pada musim kemarau, kondisi ini belum tentu menandakan terjadinya gelombang panas.
“Kondisi ini tidak serta-merta dapat disebut sebagai gelombang panas, karena perlu dilihat berdasarkan karakteristik klimatologis wilayah dan pola cuaca setempat,” kata Andri kepada Katadata, dikutip pada Jumat (8/5).
Dia menjelaskan, gelombang panas merujuk pada kondisi saat suhu maksimum harian meningkat sekitar 5°C di atas normal klimatologis setempat. Kemudian, kondisi ini juga bertahan secara terus menerus selama setidaknya lima hari berturut-turut.
“Di wilayah tropis seperti Indonesia, kondisi atmosfer secara alami tidak mendukung terjadinya gelombang panas atau heatwave dalam pengertian meteorologis,” ujarnya.
Penyebabnya, cuaca di wilayah ini cenderung dinamis, hujan masih turun saat musim kemarau. Sebab itu, suhu tinggi jarang bertahan secara persisten.
BMKG memprediksi dinamika tinggi atmosfer dalam beberapa hari ke depan. Yang artinya, cuaca cerah bisa disertai potensi hujan dan angin kencang setelahnya.
