Lonjakan Turis ke Antartika dan Ancaman Virus Purba yang Terkunci Ribuan Tahun

Ajeng Dwita Ayuningtyas
Oleh Ajeng Dwita Ayuningtyas - Martha Ruth Thertina
20 Mei 2026, 15:06
Meningkatnya ancaman terhadap ekosistem Antartika mencuatkan kembali kekhawatiran lama soal risiko penyebaran virus purba.
Vecteezy.com/Vladimir Protasov
Meningkatnya ancaman terhadap ekosistem Antartika mencuatkan kembali kekhawatiran lama soal risiko penyebaran virus purba.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kutub Selatan alias Antartika semakin sibuk. International Association of Antarctica Tour Operators (IAATO) mencatat lebih dari 100 ribu turis mengunjungi benua es tersebut pada musim kunjungan 2022-2023, melonjak lebih dari 10 kali lipat dari era 1990-an.

Beberapa peneliti memprediksi angkanya bisa melambung tiga sampai empat kali lipat dalam satu dekade ke depan menjadi 400 ribu turis per tahun. Penyebabnya, berkurangnya luas es laut dan semakin banyak area daratan yang bebas dari es membuat turis dapat mengunjungi lokasi-lokasi yang sebelumnya sulit dijangkau. 

Selain itu, turunnya biaya perjalanan, bertambahnya jumlah kapal dengan lambung yang dirancang untuk menembus es, serta kemajuan teknologi. International Union for Conservation of Nature (IUCN) menekankan pentingnya pengendalian lewat pengelolaan pariwisata yang berbasis ilmu pengetahuan dan praktik yang sudah teruji alias best practice.

"Dampak negatif pariwisata memperburuk ancaman bagi satwa liar dan ekosistem Antartika yang selama ini sudah datang antara lain dari perubahan iklim dan masuknya spesies asing invasif," demikian tertulis dalam laporan terbaru IUCN, dikutip Rabu (20/5).

Merujuk pada data NASA, Antartika kehilangan sekitar 135 miliar ton es per tahun sepanjang 2002-2022 seiring pemanasan global. Bertambahnya ancaman bagi ekosistem Antartika berarti bertambahnya risiko bagi global, termasuk penyebaran virus purba -- virus yang terkurung selama ratusan bahkan ribuan tahun di wilayah lapisan es abadi.

Penelitian Terbaru Seputar Virus Purba

Penelitian pada 2025 di Gletser Styx, Antartika, menemukan beragam mikroorganisme purba yang masih bertahan di lingkungan es. Sebagian di antaranya memiliki gen yang berkaitan dengan kemampuan menyebabkan penyakit (pathogenic potential) alias gen yang membantu mikroba menempel pada sel inang atau bertahan dari sistem imun.

Di wilayah Kutub Utara atau Arktik, lapisan tanah beku permanen atau permafrost dilaporkan memanas hingga empat kali lebih cepat dibandingkan rata-rata pemanasan global. Permafrost menyimpan sisa tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme yang terkubur selama puluhan ribu tahun.

Dikutip dari laporan CNN, Profesor emeritus genomika dari Aix-Marseille University, Jean-Michel Claverie, telah berulang kali meneliti sampel permafrost Siberia untuk mencari virus kuno yang masih aktif.

Dalam studi yang terbit pada 2023, Claverie dan tim berhasil mengisolasi beberapa virus purba dari tujuh lokasi di Siberia. Semua virus tersebut masih mampu menginfeksi amuba yang digunakan sebagai organisme uji di laboratorium.

Virus tertua diperkirakan berusia sekitar 48.500 tahun dan ditemukan di sedimen danau bawah tanah. Sedangkan yang termuda berusia 27.000 tahun, ditemukan dalam isi perut dan bulu sisa-sisa mammoth.

Claverie mengatakan, fakta bahwa virus yang menginfeksi amuba masih menular setelah sekian lama terkubur, menunjukkan potensi masalah yang lebih besar. Dia mengaku melihat banyak sekali jejak virus lain. Namun, belum bisa dipastikan apakah mereka masih hidup.

“Tetapi alasan kami adalah jika virus amuba masih hidup, tidak ada alasan virus lainnya tidak akan hidup dan mampu menginfeksi inang mereka sendiri,” ujarnya. 

Temuan Virus Purba pada Jasad Manusia Beku

Beberapa penelitian menunjukkan virus lama memang dapat ditemukan pada sisa jasad manusia yang terawetkan di lingkungan beku.

Pada 1997, ilmuwan mengambil jaringan paru-paru dari korban pandemi influenza 1918 yang terkubur di Alaska. Sampel tersebut kemudian membantu peneliti merekonstruksi genom virus influenza yang menyebabkan pandemi mematikan itu.

Penelitian lain pada 2012 menemukan DNA virus penyebab cacar (smallpox) pada mumi berusia sekitar 300 tahun di Siberia.

Selain virus, bakteri juga dapat bertahan lama dalam kondisi beku. Pada 2016, wabah antraks terjadi di Siberia dan menginfeksi puluhan orang serta menewaskan lebih dari 2.000 rusa kutub. Penyebabnya diduga berasal dari spora bakteri yang muncul kembali setelah lapisan tanah beku mencair.

Para ilmuwan belum bisa memastikan berapa lama virus ini bisa tetap menular dan berapa besar kemungkinannya menemukan inang yang sesuai. Perlu diingat, tidak semua virus adalah patogen yang dapat menyebabkan penyakit. Ada yang jinak, bahkan bermanfaat bagi inangnya.

Sejauh ini, menurut Claverie, risiko paparan virus purba terhadap manusia sangat rendah, terutama bagi penduduk Artik. “Namun, risiko tersebut pasti akan meningkat dalam konteks pemanasan global.” 

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...