IWIP Kejar Sertifikasi Nickel Mark di Tengah Sorotan ESG Industri Nikel

Ajeng Dwita Ayuningtyas
4 Juni 2026, 11:10
Foto udara aktivitas pengolahan nikel (smelter) di Kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Desa Lelilef, kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Minggu (7/7/2024). 
ANTARA FOTO/Andri Saputra/YU
Foto udara aktivitas pengolahan nikel (smelter) di Kawasan Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Desa Lelilef, kabupaten Halmahera Tengah, Maluku Utara, Minggu (7/7/2024). 
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kawasan industri terpadu nikel Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Maluku Utara sedang menjalani proses standardisasi produksi dan rantai pasok yang bertanggung jawab. Hal ini diungkapkan oleh Nickel Producers Environmental Research Association (NiPERA), lembaga riset di bawah asosiasi produsen nikel global, Nickel Institute.

Executive Director NiPERA, Chris Schlekat, mengatakan dirinya baru saja mengunjungi kawasan pertambangan dan pengolahan nikel tersebut serta berdiskusi dengan manajemennya. "Manajemen IWIP menyampaikan bahwa mereka sedang menjalani proses standardisasi pengadaan bahan baku yang bertanggung jawab melalui Nickel Mark," kata Chris dalam diskusi Responsible Downstreaming at Scale: Lessons from North Maluku di Jakarta, Rabu (3/6).

Nickel Mark merupakan bagian dari The Copper Mark, lembaga yang menyediakan standar dan sertifikasi untuk praktik operasi mineral yang berkelanjutan. "Kami akan terus memantau proses yang dijalani IWIP dalam memenuhi standar Nickel Mark dan terbuka untuk berdialog mengenai perkembangan tersebut," ujar Chris yang juga pemimpin divisi sains independen dari Nickel Institute.  

ESG Superintendent IWIP, Xiaolin Wang, menjelaskan bahwa investor yang beroperasi di kawasan tersebut berasal dari berbagai negara dan melayani pasar yang berbeda. Kondisi itu membuat tuntutan regulasi, kebutuhan pelanggan, serta prioritas ESG masing-masing perusahaan tidak selalu sama.

"Karena itu, kami mengembangkan model pengelolaan kolaboratif antara IWIP dan para mitra. IWIP bertanggung jawab membangun fondasi ESG, sementara para mitra dan investor mengembangkan tim serta sistem manajemen ESG sesuai kebutuhan masing-masing," ujarnya.

Meski demikian, Xiaolin mengakui masih diperlukan banyak dialog dengan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di kawasan maupun pemangku kepentingan lainnya untuk membentuk model tata kelola yang lebih baik.

Sejauh ini, IWIP dilaporkan tengah mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan, terutama tenaga surya dan angin. Kawasan industri tersebut juga mulai mengolah sampah domestik menjadi listrik. Namun, sebagian besar kebutuhan energinya masih ditopang oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara. Selain itu, IWIP mulai menggunakan truk listrik untuk mendukung operasional kawasan.

Sebagai informasi, di dalam IWIP terdapat fasilitas peleburan pirometalurgi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan hidrometalurgi High Pressure Acid Leach (HPAL).

RKEF menghasilkan nickel pig iron (NPI) atau besi mentah dengan kandungan nikel rendah (biasanya di bawah 15 persen). NPI banyak dimanfaatkan untuk produk baja tahan karat. Sedangkan HPAL memproduksi mixed hydroxide precipitate (MHP) yang memiliki kandungan nikel dan kobalt tinggi, yang banyak dimanfaatkan untuk bahan baku baterai kendaraan listrik.

Co-Head of Responsible Sourcing Glencore Ilse Schooters mengatakan, praktik ESG yang baik adalah menyelaraskan pertumbuhan bisnis perusahaan dengan ekonomi wilayah. Dan, bagaimana meminimalkan dampak negatif dari operasional perusahaan terhadap lingkungan.

“Yang menjadi tujuan bukan hanya pertumbuhan perusahaan semata, tapi juga pertumbuhan wilayah serta perekonomian masyarakat lokal,” ujarnya. Glencore merupakan perusahaan pertambangan dan perdagangan komoditas multinasional asal Swiss yang juga satu anggota Nickel Institute.

Menurut dia, mencapai praktik ESG yang baik layaknya perjalanan yang panjang. Banyak perusahaan pertambangan besar yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk mengintegrasikan ESG dalam model bisnisnya. IWIP yang baru berusia delapan tahun dianggap masih cukup ‘muda’ untuk terus mengejar target tersebut.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...