Mandatori Bensin E5, Siapa Pemasok Bioetanol dan Berapa Gap Pasokannya?

Martha Ruth Thertina
23 Juni 2026, 13:19
Peluncuran Pertamax Green 95 di SPBU Pedaringan Solo, Jawa Tengah, Senin (7/7/2025). Setelah Pertamina bertahap memasarkan Pertamax Green dengan kandungan 5 persen etanol, kini pemerintah bersiap mewajibkan pencampuran 5 persen etanol dalam bensin alias m
ANTARA FOTO/Maulana Surya/foc.
Peluncuran Pertamax Green 95 di SPBU Pedaringan Solo, Jawa Tengah, Senin (7/7/2025). Setelah Pertamina bertahap memasarkan Pertamax Green dengan kandungan 5 persen etanol, kini pemerintah bersiap mewajibkan pencampuran 5 persen etanol dalam bensin alias mandatori E5 di sejumlah SPBU.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah berencana mewajibkan sejumlah SPBU untuk menjalankan kebijakan mandatori E5 alias pencampuran 5 persen etanol dalam bensin pada paruh kedua tahun ini. Ini menjadi bagian dari strategi ketahanan energi di tengah gonjang-ganjing harga dan pasokan minyak bumi impor.

Bila merujuk pada buku saku bioenergi tahun 2023, pemerintah sempat menargetkan mandatori E5 pada 2020 dan E20 pada 2025. Namun, gagal terlaksana. Problemnya, terbatasnya produksi etanol untuk kebutuhan bahan bakar di dalam negeri.

Kini, pemerintah membidik target baru, yaitu E5 pada 2026, E10 pada 2027, dan percepatan E20 pada 2028.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menjelaskan kebijakan mandatori sudah tertera dalam Keputusan Menteri ESDM No. 113 Tahun 2026. Pelaksanaan mandatori E5 tinggal menunggu Keputusan Menteri terkait penetapan alokasi dan kesiapan infrastruktur badan usaha.

"Intinya sebelum Desember (2026) sudah dimandatorikan dulu 5 persen, karena Januari (2027) kan mengejar yang 10 persen, baru yang Januari 2028 baru 20 persen," ujar Eniya, pertengahan Juni lalu.

Sebelumnya, dia sempat mengungkapkan soal rencana mandatori E5 mulai 1 Juli 2026, berbarengan dengan mandatori B50 alias  kewajiban pencampuran 50 persen produk turunan minyak sawit dalam solar. Namun karena persiapan masih berlangsung, dia belum dapat memastikan kapan tepatnya mandatori E5 berjalan.

Sejauh ini, bensin jenis ini baru dipasarkan oleh Pertamina sebagai produk komersil bukan produk mandatori. Produk yang dimaksud yaitu Pertamax Green 95 yang dipasarkan di sejumlah SPBU mulai Juli 2023 lalu.  

Hingga kini, peminatnya masih terbilang sedikit. Pertamax Green tercatat dijual di 177 SPBU Pertamina di Pulau Jawa dengan total penyaluran hanya 812 kiloliter sepanjang 2025. Sebagai perbandingan, konsumsi bensin nasional sekitar 105 ribu kiloliter per hari. 

Roadmap Mandatori BBN

Roadmap Mandatori BBN (Kepmen ESDM 113 Tahun 2026)

Belasan Produsen Bioetanol dengan Pasokan Mini

Terdapat belasan produsen bioetanol di dalam negeri, tapi hanya beberapa yang memproduksi bioetanol untuk bahan bakar. Bioetanol untuk Pertamax Green 95, seluruhnya dipasok oleh PT Energi Agro Nusantara allias Enero.

Energo adalah anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara I. Pabrik bioetanol Energo berlokasi di Mojokerto, Jawa Timur. Pabrik mengolah molase alias tetes tebu menjadi bioetanol aneka grade.

Bioetanol yang digunakan sebagai bahan bakar kendaraan memiliki struktur kimia yang persis sama dengan etanol pada minuman keras. Perbedaannya terletak pada tujuan penggunaan dan tingkat kemurnian. Etanol yang digunakan untuk bahan bakar disebut dengan Fuel Grade Ethanol (FGE) dengan tingkat kemurnian sangat tinggi yaitu 99,5 persen.

Sejauh ini, mayoritas bioetanol domestik berasal dari molase atau tetes tebu. Bahan baku lainnya yaitu singkong dan jagung. 

Total produksi bioetanol baru berkisar 300 ribu kiloliter per tahun, dan yang fuel grade hanya sekitar seperlimanya. Sebagai gambaran, konsumsi bensin nasional mencapai 105 ribu kiloliter per hari pada 2025. Artinya sekitar 38,3 juta kiloliter per tahun. 

Dengan hitungan kasar, mandatori E5 untuk seluruh konsumsi bensin nasional membutuhkan sekitar 1,9 juta kiloliter bioetanol per tahun. Angka ini sekitar enam kali lipat dari total kapasitas produksi bioetanol nasional saat ini, dan jauh di atas kapasitas produksi bioetanol fuel grade.

Pengembangan kawasan industri tebu dan singkong di wilayah food estate seperti Merauke jadi strategi pemerintah untuk menyokong program kemandirian energi lewat penggunaan bahan bakar nabati.

ProdusenLokasiKapasitas bioetanol (ribu kiloliter/tahun)Fuel Grade (ribu liter/tahun)Bahan Baku
PT MolasindoMedan6-Molase/tetes tebu
PT Medco EthanolLampung40-Molase/tetes tebu
PT Indo Lampung DistilleryLampung40-Molase/tetes tebu
PT Indonesia Ethanol IndustryLampung5020Singkong dan jagung
PT PG Rajawali IIICirebon, Jawa Barat6,0-Molase/tetes tebu
PT Madu BaruYogyakarta7,53Molase/tetes tebu
PT Indo Acidatama TbkSurakarta, Jawa Tengah50-Molase/tetes tebu
PT Energi Agro Nusantara (Enero)Mojokerto, Jawa Timur3030Molase/tetes tebu
PT Ethanol Ceria AbadiJombang, Jawa Timur12-Molase/tetes tebu
PT Molindo Raya IndustrialLawang, Jawa Timur9010Molase/tetes tebu
PSA Jatiroto PTPN XILumajang, Jawa Timur6-Molase/tetes tebu
Total 337,563 

Buku Saku Bioenergi 2023 (Ditjen Energi Baru dan Terbarukan)

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...