Prabowo Bidik Nol Insiden Karhutla 2027, Ini Rekomendasi Para Guru Besar
Presiden Prabowo Subianto menargetkan nol insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2027. Pembentukan kembali badan khusus yang mengurus gambut, Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional atau BPGMN, menjadi salah satu strategi untuk mengejar target tersebut.
Target tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, saat menutup workshop untuk penyusunan aturan pembentukan BPGMN dan pengendalian karhutla di Kantor Kementerian Kehutanan pada pekan lalu.
“Kemarin kami diberikan target untuk membantu Bapak Menteri Kehutanan, tahun depan zero accident, semoga tahun depan tidak ada lagi workshop. Kalau masih ada, berarti masih kebakaran,” ucap dia, Jumat (2/10).
Menurut dia, kesiapan kampus untuk mendukung pencapaian target sekaligus berjalannya BPGMN melalui riset maupun aneka sumber dayanya. “Semakin banyak yang terlibat, semoga itu bisa betul-betul mendapatkan target zero accident,” ujarnya.
Guru Besar Bicara Langkah Prioritas Cegah Karhutla 2027
Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Gusti Zakaria Anshari, mengatakan bahwa tidak mudah untuk mengubah angka karhutla menjadi nol secara tiba-tiba. “Sebenarnya, kami reduksi-lah, pengurangan, lebih terkendali,” ucap dia, di sela-sela workshop tersebut.
Salah satu cara untuk mencapai pengurangan ini, kata dia, adalah dengan menguatkan partisipasi masyarakat peduli api (MPA) atau masyarakat yang tinggal di lahan-lahan gambut.
Maka itu, dia berharap, adanya dukungan berupa insentif, peningkatan fasilitas, dan perbaikan-perbaikan untuk meningkatkan kesejahteraan, kesiapsiagaan, serta memastikan keselamatan masyarakat.
Sedangkan Guru Besar Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air Institut Teknologi Bandung, Indratmo Soekarno, mengatakan upaya paling cepat yang bisa dilakukan BPGMN untuk pengendalian karhutla adalah pembasahan lahan gambut.
“Muka air tanahnya harus terjaga sepanjang tahun,” ujar dia. Dengan musim kering sekitar 4-7 bulan, selama itu pula upaya pembasahan dilakukan.
Langkah lainnya, kata Indratmo, perbaikan fasilitas yang ada, seperti sekat-sekat kanal yang sudah dibangun pada 2017 di era masa tugas Badan Restorasi Gambut (BRG).
“Bangunan itu harus diinventarisasi lagi, didata, cari kooridinatnya dimana. Itu yang difungsionalkan dulu,” ujar dia.
Senada dengan yang dikatakan Gusti, Indratmo juga mendorong mobilisasi masyarakat untuk turut serta menjaga ekosistem gambut dan mangrove.
