Super El Nino Bisa Sampai Kemarau 2027, Bahaya Karhutla dan Kekeringan Berulang

Ajeng Dwita Ayuningtyas
12 Oktober 2026, 17:56
Foto udara sejumlah kambing memakan rumput liar di lahan persawahan yang mengalami kekeringan di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (23/9/2026).
ANTARA FOTO/ Putra M. Akbar/kye
Foto udara sejumlah kambing memakan rumput liar di lahan persawahan yang mengalami kekeringan di Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (23/9/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Peneliti iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin memperingatkan pemerintah tentang potensi Super El Nino berlanjut hingga kemarau 2027. Ini artinya, kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi tahun ini bisa berulang di tahun depan. 

Melalui unggahan Instagram pribadinya, Erma menjelaskan, jika intensitas El Nino masih kuat pada April 2027, dampaknya berpotensi berlanjut hingga musim kemarau pada Mei-September 2027. “Sehingga, kemarau pada 2027, diprediksi lebih kering dari kondisi normalnya,” kata Erma, dikutip pada Senin (12/10).

Alhasil, kondisi serupa tahun ini bisa berulang, meskipun kekeringan pada 2027 kemungkinan tidak lebih parah dibandingkan 2026. “Hal yang menarik adalah ini pertama kalinya dalam sejarah, El Nino berlangsung selama 2 siklus musim kemarau (durasi terlama dan intensitas terkuat),” ucapnya.

Data mingguan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan indeks Nino 3.4 mencapai 2,76 derajat C pada 8 Oktober 2026. Sedangkan, indeks Nino 1+2 yang dipantau National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat tercatat melampaui 4 derajat C.

Indeks Nino mengukur penyimpangan suhu muka laut dari rata-rata normalnya di wilayah tertentu di Samudra Pasifik. Indeks Nino 3.4 mengukur anomali suhu di wilayah Pasifik tengah hingga timur, sedangkan Niño 1+2 mengukur wilayah Pasifik paling timur, dekat pesisir Peru dan Ekuador. Nilai positif yang tinggi menunjukkan suhu muka laut di wilayah tersebut lebih hangat dibandingkan kondisi normal.

Erma menjelaskan, pemanasan yang masih terkonsentrasi di bagian timur Pasifik menjadi salah satu hal yang perlu dicermati. Menurut dia, distribusi panas yang belum sepenuhnya bergeser ke barat dapat membuat penurunan intensitas El Nino membutuhkan waktu lebih lama.

“Hal ini karena distribusi panas belum sepenuhnya ditransfer ke barat. Dengan demikian, penurunan Super El Nino ini pun bakal membutuhkan waktu yang lama,” ucap dia. 

Risiko Episode Panjang Kekeringan dan Karhutla 

Dengan analisis tersebut maka risiko kekeringan serta risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berisiko berlanjut. 

Bila merujuk pada peta peringatan dini kekeringan meteorologis BMKG, sejumlah wilayah di Indonesia masih harus menghadapi risiko kekeringan dalam status awas per dasarian II Oktober (11-20 Oktober). Sebagian lainnya masih berstatus siaga dan waspada, meski ada juga yang diprediksi terhindar dari kekeringan. 

Bersamaan dengan itu, kebakaran hutan dan lahan masih melanda berbagai wilayah di Indonesia. Melansir data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total 6.900 titik panas terdeteksi hanya di enam provinsi prioritas penanganan karhutla pada Senin (12/10) ini.

Selama 24 jam terakhir, tercatat 568,63 hektare area terbakar di Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Ini menambah  luas lahan terbakar terus menanjak. 

Sepanjang Januari hingga pertengahan September saja, total area terbakar diestimasi mencapai 90 ribu hektare atau sekitar 1,4 kali luas daratan Jakarta. Secara rinci, total lahan terbakar di Kalimantan Barat sudah mencapai sekitar 48.536 hektare, Kalimantan Selatan 19.303 hektare., Kalimantan Tengah sekitar 15.976 hektare, dan Kalimantan Timur 5.761 hektare.  

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...