Agus Martowardojo, Eks Gubernur BI dan Menkeu Jadi Komisaris GoTo

Dzulfiqar Fathur Rahman
Oleh Dzulfiqar Fathur Rahman - Lona Olavia
8 Februari 2023, 17:46
Agus Martowardojo, GoTo, Gojek, komisaris goto
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
Mantan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo memberikan sambutan saat peluncuran buku biografi Agus Martowardojo "Pembawa Perubahan" di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin (2/9/2019). Buku tersebut merupakan cerita perjalanan hidup Agus Martowardojo selama menjabat sebagai bankir, menteri keuangan dan gubernur BI periode 2013-2018.

PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menunjuk Agus Martowardojo menjadi komisaris. Jabatan baru Agus ini akan disahkan pada RUPSLB GoTo pada 2 Maret 2023.

Direktur Utama GOTO Andre Soelistyo mengatakan memiliki kedekatan dengan Agus Martowardoyo.   “Sebuah kehormatan bagi kami menyambut pencalonan Bapak Agus Martowardojo sebagai Komisaris GoTo. Bapak Agus adalah sosok yang tidak asing lagi bagi kami, setelah sebelumnya menjabat sebagai Komisaris Utama Tokopedia,” kata Andre di Diskusi Media Terbatas GOTO, Rabu (8/2).

Andre mengatakan GOTO memilih Agus karena memiliki wawasan dan pengalaman yang luas sebagai pemimpin yang andal dan dihormati di sektor swasta.  Agus juga memiliki rekam jejak yang teruji selama masa kepemimpinannya di Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia. "Akan sangat berharga dalam memandu GOTO melangkah menuju fase selanjutnya, yakni membawa bisnis kami menuju profitabilitas," kata Andre. 

Penunjukkan bankir senior ini sebagai komisaris utama GoTo sejalan dengan tren kariernya setelah lengser dari jabatan publik. Pria berusia 67 tahun ini telah menjabat dua posisi yang sama di Tokopedia pada 2019 dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) pada 2020.

Pria kelahiran Amsterdam, Belanda, itu bertanggung jawab untuk mengawasi jajaran pemimpin dan kegiatan operasional Tokopedia dan BNI. Sebelum bergabung ke Tokopedia, Agus menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) ke-15 pada periode Mei 2013 hingga Mei 2018.

Antara 2013 dan 2014, Agus menakhodai BI ketika Indonesia tengah menghadapi tekanan kebijakan The Federal Reserve Amerika Serikat (AS) menghentikan program pelonggaran kuantitatif. Ini bermuara ke mengalirnya modal asing keluar dari Indonesia, serta menyebabkan kemerosotan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Terjadi kepanikan pasar. Saya segera mengadakan rapat koordinasi dengan Gubernur bank Indonesia, Agus Martowardojo, dan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman Hadad, untuk membahas apa yang sedang terjadi,” ujar ekonom Chatib Basri dalam makalah berjudul “The Fed’s Tapering Talk: A Short Statement’s Long Impact on Indonesia” yang terbit pada 2016. Pada waktu itu, Chatib menjabat sebagai menteri keuangan

Agus menanggapinya antara lain dengan menaikkan suku bunga acuan secara bertahap mulai Juni 2013 atau hanya berselang beberapa hari sejak pengumuman dari bank sentral AS. Suku bunga acuan Indonesia naik 175 poin ke 7,5% dalam antara Juni dan November 2013.

Saat menjabat sebagai Gubernur BI, Agus telah memiliki pengetahuan mendalam terkait stabilitas sistem keuangan Indonesia. Sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia ini sempat menjabat sebagai Menteri Keuangan antara Mei 2010 dan April 2013. Sebagai Menteri Keuangan, dia juga memimpin Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

Agus menggantikan Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan dalam periode kedua masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dia masuk ketika sedang terjadi ketegangan antara pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) terkait keterlibatan Sri Mulyani dalam kasus Bank Century.

Saat meluncurkan buku biografi 'Agus Marto Martowardojo Pembawa Perubahan', Agus Marto mengatakan kesuksesannya berkat pesan dari sang ayah yang selalu menekankan pentingnya integritas. 

"Jadi ayah saya selalu kasih pesan ke saya: Agus Marto, dalam segala macam kondisi kamu harus punya kaki yang kuat, kaki yang kuat itu integritas dalam berbagai kondisi," katanya saat peluncuran biografinya pada 2019 lalu.

Selain integritas, menurut Agus Marto, kepercayaan atau trust juga dinilai merupakan hal yang penting dalam menghadapi situasi keuangan dan ekonomi yang sulit.

Sebelum terjun ke dalam jabatan publik, Agus membangun sebagian besar kariernya di sektor perbankan. Agus, misalnya, pernah memimpin PT Bank Ekspor Impor Indonesia antara 1998 dan 1999, PT Bank Permata antara 2002 dan 2005, dan PT Bank Mandiri antara 2005 dan 2010.

Reporter: Dzulfiqar Fathur Rahman

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...