Ekonomi Membaik, IHSG Diprediksi Mencelat ke Level 5.900
KATADATA ? Tahun ini, pasar saham Indonesia diprediksi kembali mencatatkan pertumbuhan. Ini terutama didorong oleh langkah pemerintah melakukan sejumlah reformasi struktural di perekonomian dalam negeri.
Danareksa Sekuritas dalam risetnya beberapa waktu lalu memprediksi indeks harga saham gabungan (IHSG) akan tumbuh sebesar 13 persen dengan indeks mencapai 5.900 poin.
?Kami yakin akan kemampuan pemerintah untuk melakukan perubahan, dan yang terpenting ada kemauan politik untuk mengeksekusi kebijakan tersebut,? sebut Helmy Kristanto, Head of Equity Research Danareksa Sekuritas, dalam riset tersebut.
Ada empat alasan pasar saham akan menguat pada tahun ini. Pertama, kenaikan suku bunga acuan (BI Rate) akan mempercepat penurunan inflasi sehingga ekonomi akan lebih stabil.
Kedua, pengurangan subsidi bahan bakar minyak (BBM) meningkatkan alokasi belanja modal untuk sektor produktif. Ketiga, risiko politik yang mulai mereda. Keempat, kondisi makro ekonomi akan berdampak positif bagi kinerja industri di dalam negeri.
?Komitmen pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur yang bobrok, menjadi pendorong utama penguatan IHSG. Pada gilirannya hal ini akan menumbuhkan industri, di sektor mikro,? kata Helmy.
(Baca: Tumbuh 22 Persen, Kinerja IHSG Salah Satu yang Terbaik di Dunia)
Optimisme ini kemudian didukung inisiatif pemerintah untuk merangsang pertumbuhan, dengan mengurangi dividen badan usaha milik negara (BUMN) sehingga bisa mengejar peluang bisnis yang lebih besar. Kemudian, mendukung rencana penerbitan saham baru (rights issue) untuk memperkuat modal BUMN, serta memangkas harga BBM saat harga minyak dunia turun.
Danareksa memprediksikan ekonomi bisa tumbuh 5,34 persen didorong oleh ekspansi pemerintah yang lebih tinggi. Defisit neraca transaksi berjalan juga diperkirakan berkurang, sehingga bisa memperkuat nilai tukar rupiah pada semester II-2015. Rupiah pun diproyeksikan rata-rata berada pada level Rp 11.750 per dolar Amerika Serikat.
Begitu juga dengan inflasi yang diperkirakan turun ke posisi 5,04 persen pada akhir tahun. ?Meski realisasi inflasi mencapai 8,36 persen year on year (yoy), dan menimbulkan kekhawatiran. Kami percaya BI Rate masih akan sebesar 7,75 persen sampai akhir tahun, meskipun ada kenaikan Fed Rate,? ujarnya.
(Baca: Tiga Sekuritas Menaikkan Proyeksi Saham Adhi Karya)
Dengan memerhatikan kondisi ekonomi ini, dia memperkirakan, perbankan akan tumbuh 12 persen dibandingkan tahun lalu sebesar 9 persen. Hal ini didorong oleh pertumbuhan kredit yang diperkirakan 15,1 persen, lebih tinggi dibanding 2014 sebesar 13 persen. Kemudian peningkatan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) 0,03 persen.
Kemudian, normalisasi harga komoditas yang diprediksi terjadi tahun ini akan berdampak positif bagi sektor pertanian, pertambangan, dan alat berat. Sementara itu, melemahnya rupiah juga masih akan menekan sektor farmasi, konsumer, dan otomotif. Jika tidak ada pengelolaan yang baik terhadap risiko ini, lanjutnya, kas perusahaan akan tergerus.
Helmy juga menyampaikan, sekuritasnya memberikan prediksi overweight atau memiliki prospek yang sangat bagus bagi saham perbankan, telekomunikasi, infrastruktur baik konstruksi maupun semen, properti, ritel, dan pertanian.
Sedangkan, untuk otomotif, konsumer, tambang, dan menara telekomunikasi diberikan proyeksi netral. (Baca: Investor Asing Mulai Optimistis, IHSG Akan Kembali Menguat)
Saham-saham yang diprediksi cemerlang tahun ini, yakni PT Ace Hardware Indonesia Tbk yang diperkirakan harga sahamnya akan mencapai Rp 980 per saham. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Rp 13.150, PT Bank Mandiri Rp 12.400, dan PT Bumi Serpong Damai Rp 2.100 per saham.
Selain itu,harga saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk diperkirakan Rp 13.800, PT Pembangunan Peruamahan Tbk Rp 4.100, dan PT Vale Indonesia Rp 4.700 per saham. Lalu, PT Destinasi Tirta Nusantara Tbk Rp 19.200, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk Rp 3.250, serta PT Waskita Karya Tbk Rp 1.650 per saham.
