Wall Street Cetak Rekor Tertinggi Usai The Fed Isyaratkan Pangkas Bunga Lagi

Nur Hana Putri Nabila
19 September 2025, 06:39
Ilustrasi bursa Wall Street, New York Stock Exchange, Amerika Serikat
Unsplash.com
Ilustrasi bursa Wall Street, New York Stock Exchange, Amerika Serikat
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks bursa Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup naik hingga ke level tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) pada perdagangan Kamis (18/9). Saham-saham berkapitalisasi kecil mencatat kenaikan terbesar usai Federal Reserve memberi sinyal akan memulai siklus untuk penurunan suku bunga, hingga memicu optimisme investor dan meningkatkan prospek pertumbuhan ekonomi.

S&P 500 naik 0,48% ke level 6.631,96, Nasdaq Composite melesat 0,94% ke 22.470,73, dan Dow Jones Industrial Average tumbuh 124 poin atau 0,27% ke 46.142,42. Seluruh indeks utama mencatat rekor intraday tertinggi, menyusul volatilitas perdagangan sehari sebelumnya yang dipicu oleh keputusan pemangkasan suku bunga The Fed.

Indeks Russell 2000 yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil naik 2,4% dan mencapai rekor intraday. Indeks acuan ini terakhir kali mencatatkan rekor penutupan tertinggi pada November 2021. 

Perusahaan-perusahaan dengan kapitalisasi kecil cenderung diuntungkan dari suku bunga rendah karena seringkali lebih bergantung pada pendanaan eksternal untuk operasional dan pertumbuhan. Justru berbanding terbalik apabila dibandingkan dengan perusahaan besar yang memiliki kas melimpah. 

Selain itu, perusahaan kecil juga lebih terkait dengan siklus ekonomi dibandingkan dengan saham-saham Big Tech yang mengandalkan tren kecerdasan buatan (AI).

Sejumlah saham teknologi raksasa turut menguat pada perdagangan Kamis (18/9). Saham Intel melesat 22,8% setelah Nvidia mengumumkan investasi senilai US$5 miliar untuk mengembangkan chip pusat data dan PC bersama. Lonjakan ini menjadi hari terbaik bagi Intel dalam hampir 38 tahun. Sementara itu, saham Nvidia juga naik 3,5%.

Lonjakan saham ini terjadi setelah sesi perdagangan Rabu yang bergejolak, apalagi setelah Federal Reserve memangkas suku bunga acuan 0,25% sesuai perkiraan pasar. Bank sentral juga memproyeksikan bakal ada dua kali penurunan tahun ini, yang disambut positif investor karena menandakan langkah Fed menuju kebijakan moneter yang lebih longgar. 

Meski Ketua Fed Jerome Powell menyebut langkah itu sebagai bagian dari “manajemen risiko”, pelaku pasar menilai bank sentral kini lebih fokus mendorong pertumbuhan ekonomi ketimbang mengendalikan inflasi.

Investor kawakan David Tepper dari Appaloosa Management mengaku tidak menyukai rasio harga terhadap laba (P/E ratio), namun tetap memilih masuk pasar. “Saya tidak pernah melawan The Fed, apalagi ketika pasar memperkirakan satu hingga dua kali pemangkasan suku bunga lagi sebelum akhir tahun. Sulit untuk tidak ikut di dalamnya,” ujarnya dikutip CNBC, Jumat (19/9).

Tepper juga mengingatkan risiko kebijakan The Fed. Menurutnya, penurunan suku bunga yang terlalu agresif tahun depan bisa memicu overheating pada pasar maupun perekonomian.

Di sisi lain, kenaikan indeks pada Kamis menguatkan tren positif pekan ini. S&P 500 naik 0,7% secara mingguan, mencatatkan reli enam dari tujuh pekan terakhir. Dow Jones juga menguat hampir 0,7%, Nasdaq melonjak 1,5%, sementara Russell 2000 mencatat kenaikan terbesar dengan hampir 3% sepanjang pekan ini.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...