Indeks Wall Street Ditutup Bervariasi, Nasdaq Turun Terseret Saham Teknologi

Nur Hana Putri Nabila
10 November 2025, 07:01
Wall Street, bursa, saham
Wall Street
Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks Wall Street Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada Jumat (7/11). Nasdaq Composite turun 0,21% ke level 23.004,54 karena investor kembali menjual saham-saham korporasi berbasis kecerdasan buatan hingga Nasdaq ditutup dengan kinerja negatif dalam sepekan.

Pelemahan juga terjadi seiring data ekonomi terbaru yang memperkuat kekhawatiran investor soal melambatnya ekonomi AS. Sebaliknya S&P 500 justru naik 0,13% ke level 6.728,80, dan Dow Jones Industrial Average menguat 74,80 poin atau 0,16% ke level 46.987,10.

Pada sesi perdagangan sebelumnya, tekanan jual oleh investor menyeret Nasdaq turun hingga 2,1%. Indeks S&P 500 dan Dow juga sempat terkoreksi masing-masing 1,3% dan lebih dari 400 poin atau sekitar 0,9%.

Namun, pasar berbalik menguat setelah Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer, mengajukan rencana kompromi kepada Partai Republik untuk mengakhiri penutupan pemerintahan.

Dalam rencana tersebut, Schumer menawarkan pendanaan jangka pendek bagi operasional pemerintah federal dengan imbalan perpanjangan satu tahun kredit pajak dalam Undang-Undang Perawatan Terjangkau.

Di tengah penutupan pemerintahan itu, kekhawatiran investor terhadap kekuatan ekonomi AS semakin meningkat. Survei Universitas Michigan pada Jumat menunjukkan sentimen konsumen mendekati level terendah sepanjang masa.

Data tersebut muncul sehari setelah Challenger, Gray & Christmas melaporkan pengumuman pemutusan hubungan kerja (PHK) pada Oktober mencapai level tertinggi untuk bulan tersebut dalam 22 tahun.

Imbasnya, investor juga menerima lebih sedikit data ekonomi. Biro Statistik Tenaga Kerja seharusnya merilis laporan nonfarm payrolls pada Jumat, tetapi justru absen untuk bulan kedua berturut-turut.

Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan laporan itu akan menunjukkan penurunan 60.000 pekerjaan dan kenaikan tingkat pengangguran menjadi 4,5%.

Senat diperkirakan akan melakukan pemungutan suara pada Jumat untuk mengesahkan langkah pendanaan sementara yang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat.

Tak hanya itu, hal ini merupakan penundaan pendanaan federal terlama dalam sejarah dan mulai mengganggu aktivitas ekonomi. Kondisi ini menyebabkan kekurangan pengawas lalu lintas udara, yang telah bekerja tanpa gaji sejak Oktober, dan memicu gangguan penerbangan.

Menteri Perhubungan, Sean Duffy pada Rabu (5/11) menyebut akan mengurangi jadwal penerbangan sebesar 10% di 40 bandara besar mulai Jumat. Kebijakan ini berpotensi mempengaruhi sekitar 3.500 hingga 4.000 penerbangan per hari. Hingga Jumat pagi, lebih dari 700 penerbangan di AS telah dibatalkan.

Kepala strategi investasi di Concurrent Asset Management, Leah Bennett, mengatakan bahwa ketidakpastian semakin terasa di pasar. Ia menilai minimnya data pemerintah membuat pelaku pasar tengah dalam situasi yang tidak jelas dalam waktu yang cukup lama, dan berpotensi mempengaruhi perilaku investor.

“Saya pikir hal itu menunjukkan mengapa valuasi seharusnya, setidaknya dalam jangka pendek, terus menurun,” katanya dikutip CNBC, Senin (10/11). 

Di sisi lain, ketiga indeks Wall Street mencatat penurunan sepanjang pekan ini, seiring kekhawatiran investor terhadap valuasi tinggi saham teknologi dan konsentrasi pasar yang kian menyempit.

Nasdaq turun sekitar 3% selama lima hari terakhir, menjadi penurunan mingguan terburuk sejak periode yang berakhir 4 April. S&P 500 dan Dow juga melemah lebih dari 1% dalam periode yang sama.

Beberapa saham utama berbasis kecerdasan buatan melemah pada Jumat. Saham Oracle turun hampir 2%, sehingga sepanjang pekan mencatat penurunan sekitar 9%. Advanced Micro Devices turun hampir 9% dalam sepekan, sedangkan Broadcom turun lebih dari 5%.

Merosotnya saham AS juga terjadi sehari sebelumnya, ketika saham-saham penggerak utama kecerdasan buatan seperti Nvidia, AMD, Tesla, dan Microsoft jadi beban pasar. Nasdaq Composite turun 1,9%, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi hampir 400 poin.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...