Danantara: Merger Garuda–Pelita Air untuk Cegah Kanibalisme Pasar
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara Indonesia buka suara soal rencana penggabungan usaha atau merger PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dengan maskapai penerbangan Pelita Air. Pelita saat ini berada di bawah nanungan PT Pertamina.
Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara Febriany Eddy mengatakan, rencana merger kedua maskapai ini perlu dilakukan untuk memastikan tidak terjadinya kanibalisme. Menurut dia, Garuda dan Citilink pun tidak diperbolehkan saling mengambil pasar.
“Tadi kuncinya adalah dalam rencananya pasti akan dipastikan untuk tidak saling cannibal. Orang Garuda–Citilink aja kami tidak izinkan, apalagi nanti Pelita,” ujar Febri di Kantor Danantara, Jumat (14/11).
Menurutnya, langkah penggabungan usaha perlu dieksekusi dulu sebelum lanjut ke tahapan berikutnya. Bagian terpenting dari proses streamline adalah menghilangkan kompetisi internal dan potensi saling kanibal.
“Nah bagaimana segmentasinya, brandingnya itu tunggu lah, tunggu,” kata Febri.
Febriany juga menilai Pelita Air memiliki banyak praktik baik yang dapat diadopsi oleh entitas lain di maskapai.
“Likewise ada best practice di Citilink dan Garuda yang harus menjadi manfaat dari Pelita Air. Jadi disitu kami saling memperkuat diri,” ujar Febri.
Garuda Indonesia sebelumnya mengungkap rencana penggabungan usaha atau merger dengan maskapai penerbangan Pelita Air. Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani Panjaitan, saat itu menyampaikan perseroan saat ini fokus pada penyehatan kinerja dengan memperbaiki ekuitas, melakukan restorasi armada, memulihkan ekosistem usaha, serta meningkatkan trafik penumpang.
Adapun soal wacana konsolidasi BUMN sektor penerbangan, ia menyebut hingga kini masih berada pada tahap awal penjajakan. Ia juga menjelaskan rencana itu masih berada pada tahap awal diskusi dengan pihak-pihak terkait.
“Dan terkait hal tersebut perseroan masih terus berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan terkait,” kata Wamildan dalam keterbukaan informasi BEI, Selasa (16/9).
Danantara Indonesia sebelumnya tengah melakukan transformasi besar-besaran untuk kembali menyehatkan maskapai PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA). Maskapai plat merah ini memiliki utang mencapai US$ 8,28 miliar atau Rp 138,49 triliun dan membukukan rugi sebesar US$ 182,53 juta atau setara Rp 3,05 triliun hingga kuartal ketiga 2025.
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) menyetujui rencana penyertaan modal senilai Rp 23,67 triliun oleh PT Danantara Asset Management (DAM). Danantara juga memastikan proses restrukturisasi GIAA tidak menimbulkan beban fiskal baru terhadap negara.
“Ya memang kalau tidak dilakukan restrukturisasi tahun ini, maka tahun depan dia (Garuda) mungkin akan lebih sulit jadi ada urgency untuk segera dibantu tahun ini,” kata Febri.
Garuda juga telah menjalankan sejumlah aksi korporasi, mulai dari pendanaan langsung untuk operasional, skema untuk pembayaran utang bahan bakar, hingga penyertaan aset berupa lahan dari anak usahanya, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI).
