Prospek Emiten Sawit AALI, GZCO dan TAPG di Tengah Sentimen B50, Masih Menarik?

Karunia Putri
26 November 2025, 07:16
Sawit
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/agr
Pengunjung mengunjungi stan pameran industri kelapa sawit di Nusa Dua, Badung, Bali, Kamis (7/11/2024).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) diproyeksikan akan makin melambung pada tahun depan. Hal tersebut terjadi seiring dengan rencana pemerintah menerapkan program mandatori B50 di 2026.

Program B50 merupakan kebijakan pemerintah Indonesia yang mewajibkan pencampuran 50% biodiesel yang berbasis minyak sawit (dari semula sebesar 40%) dengan 50% solar fosil. Dengan meningkatnya kebutuhan minyak sawit untuk konsumsi dalam negeri, porsi minyak sawit yang tersedia untuk ekspor akan menyusut, sementara produksi di negara produsen utama lain cenderung stagnan.

Kondisi tersebut diperkirakan memperketat pasokan global dan mendorong kenaikan harga minyak nabati secara internasional. Beberapa negara bahkan berpotensi mengalami tekanan inflasi pangan akibat naiknya harga minyak nabati.

Direktur Godrej International Ltd Dorab Mistry bahkan memperkirakan harga CPO global dapat menembus RM 5.500 atau sekitar US$ 1.200–1.300 per ton pada tahun depan. Level tersebut diprediksi tercapai sekitar 30 hari setelah pemerintah Indonesia mengumumkan penerapan mandatori biodiesel B50.

“Jika pemerintah Indonesia menerapkan mandatori B50 atau melanjutkan penyitaan lahan, harga CPO global pasti akan mencapai RM 5.500 atau sekitar US$ 1.300 per ton,” ujar Mistry dikutip, Rabu (26/11). Per hari ini, harga CPO berada di level RM 4.050 per ton.

Sejalan dengan sentimen tersebut, harga saham emiten perkebunan sawit di Indonesia telah menunjukkan pergerakan positif sejak awal tahun atau year to date (ytd). Meskipun pada perdagangan kemarin harga saham-saham emiten sawit mengalami koreksi. 

Berdasarkan data perdagangan bursa sesi Selasa (25/11) harga saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) mengalami penurunan 1,83% atau 3 poin ke level 161, melesat 172,88% sejak awal tahun. Kemudian PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) terkoreksi 1,91% atau 6 poin ke level 308, namun melonjak 170,80% secara ytd.

Lalu emiten yang menjadi konstituen baru Morgan Stanley Capital International small cap indexes yaitu PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) turun 2,99% atau 50 poin ke level 1.620, tumbuh 70,53% secara ytd, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) berkurang 25 poin ke level 7.775, namun naik 25,40% sejak awal tahun dan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) terkoreksi 1,09% atau 15 poin ke level 1.365, naik 40% secara ytd.

Berikutnya, PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) mengalami penurunan 1,98% atau 35 poin ke level 1.730, naik 126% sejak awal tahun serta PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang stagnan di level 620, naik 64,02% secara ytd.

Membanding Kinerja Keuangan Emiten Sawit

Selain mencermati gerak saham perseroan, investor perlu memahami kinerja keuangan suatu perusahaan untuk melihat daya tahan dan strategi bisnis yang dipertahankan emiten. Bila menilik kinerja keuangan emiten-emiten sawit hingga periode September 2025, ketujuh emiten tersebut mencatatkan kenaikan laba bersih maupun pendapatan jika ditinjau secara tahunan atau year on year (yoy). 

Kondisi tersebut mencerminkan prospek positif perusahaan sawit dalam negeri yang dapat diperhatikan para investor. Beberapa di antara perseroan bahkan mencatatkan kenaikan laba hingga 500%. PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) mencatatkan kinerja paling moncer.

Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 40,38 miliar hingga September 2025. Capaian tersebut meroket 527,01% jika dibandingkan dengan laba bersih perseroan pada periode yang sama 2024 sebesar Rp 6,44 miliar. Sementara itu, pendapatan perseroan juga meningkat menjadi Rp 603,19 miliar dari Rp 438,33 miliar secara tahunan.

Kemudian ada PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) yang mencetak laba bersih sebesar Rp 1,41 triliun, melonjak 75,93% dibandingkan laba periode yang sama tahun lalu sebesar Rp Rp 806,19 triliun. Pendapatan perseroan meningkat 32,85% dari Rp 11,23 triliun menjadi Rp 14,92 triliun secara yoy.

Jika membandingkan dari sisi pendapatan, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) membukukan pendapatan paling tinggi, yakni naik 43% dari Rp 2,93 triliun menjadi Rp 4,19 triliun secara yoy. Seemntara laba bersih perseroan naik 51,72% menjadi Rp 271,44 miliar.

Adapun anak usaha Grup Astra, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencetak laba bersih sebesar Rp 1,07 triliun, naik 33,58% secara yoy dengan pendapatan yang juga tumbuh 35,81% menjadi Rp 22,11 triliun.

Katadata telah merangkum kinerja keuangan masing-masing emiten sawit berdasarkan laba bersih dan pendapatannya, berikut deretannya:

No.EmitenLaba 3Q25Laba 3Q24Naik/TurunPendapatan 3Q25Pendapatan 3Q24Naik/Turun
1.PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)Rp 1,07 triliunRp 801,15 miliar33,58%Rp 22,11 triliunRp 16,28 triliun35,81%
2.PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG)Rp 2,67 triliunRp 1,61 triliun65,83%Rp 8,20 triliunRp 6,24 triliun31,41%
3.PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)Rp 1,31 triliunRp 860,54 miliar53,02%Rp 8,94 triliunRp 7,17 triliun24,68%
4.PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) Rp 1,41 triliunRp 806,19 triliun75,93%Rp 14,92 triliunRp 11,23 triliun32,85%
5.PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)Rp 1,24 triliunRp 803,34 miliar55,29%Rp 3,95 triliunRp 2,92 triliun35,27%
6.PT Gozco Plantations Tbk (GZCO)Rp 40,38 miliarRp 6,44 miliar527,01%Rp 603,19 miliarRp 438,33 miliar37,61%
7.PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT)Rp 271,44 miliarRp 178,9 miliar51,72%Rp 4,19 triliun Rp 2,93 triliun43%

Sumber: laporan keuangan periode September 2025 masing-masing emiten, dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...