Menilik Prospek BUMI, DEWA, TINS dan FILM Masuk Indeks MSCI Rebalancing Februari

Nur Hana Putri Nabila
8 Januari 2026, 12:22
MSCI
New York Post
Morgan Stanley
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sejumlah saham RI berpotensi masuk ke dalam indeks Morgan Stanley Capital International atau MSCI dalam review periode Februari 2026. Apalagi MSCI sebelumnya menyebutkan akan menggunakan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai basis penentuan free float. 

Analis menyebut beberapa saham yang diramal masuk ke MSCI Indonesia Standard Index di antaranya PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT Timah Tbk (TINS), PT MD Entertainment Tbk (FILM), hingga PT Petrosea Tbk (PTRO). 

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, seiring rencana MSCI yang akan menggunakan data KSEI proses seleksi pada MSCI Indonesia Review Februari 2026 diperkirakan akan semakin ketat. Selain itu penyusunan indeks juga akan berbasis pada effective foreign investability.

Ia menyebut pendekatan ini dinilai akan mempersempit ruang bagi saham dengan struktur kepemilikan yang terkonsentrasi. Sistem baru sekaligus meningkatkan peluang bagi emiten yang memiliki kepemilikan publik benar-benar likuid dan aktif diperdagangkan di pasar.

Dalam kerangka tersebut, Imam menjelaskan potensi inklusi pada review Februari 2026 relatif terbatas, dengan tidak terdapat kandidat eksklusi pada level harga saham saat ini.

“Fokus utama justru berada pada saham-saham yang berada di ambang batas size migration dari small cap ke standard cap,” ucap Imam ketika dihubungi Katadata.co.id, Rabu (7/1). 

Seiring dengan itu, Imam menilai BUMI muncul sebagai kandidat dengan probabilitas tertinggi untuk masuk ke MSCI Indonesia Standard Index. Dari sisi ukuran, kapitalisasi pasar BUMI telah berada di atas ambang minimum MSCI untuk kategori standard cap, dengan harga saham saat ini juga telah melampaui estimasi cut-off.

Selain itu, status BUMI tercatat sebagai konstituen MSCI Indonesia Small Cap Index serta bagian dari MSCI Investable Market Indexes (IMI), yang membuat transisi ke standard cap dinilai bersifat natural secara metodologi. 

Ia juga mengaku kenaikan harga saham BUMI yang agresif dalam beberapa bulan terakhir masih berada dalam batas yang dapat diterima oleh MSCI. Hal itu selama tidak terjadi lonjakan ekstrem menjelang periode cut-off.

“Dengan free float yang relatif memadai dan likuiditas transaksi yang tinggi, penggunaan data KSEI justru memperkuat visibilitas BUMI dari perspektif MSCI,” ujarnya. 

Selain BUMI, lanjut Imam, Indo Premier Sekuritas juga menilai PTRO sebagai kandidat inklusi berikutnya dengan karakteristik price-driven inclusion. Adapun untuk memenuhi kriteria MSCI Standard Index, PTRO hanya membutuhkan kenaikan harga yang relatif moderat dari level saat ini.

Ia juga mengatakan faktor pendukung utama berasal dari peningkatan porsi free float efektif, yang secara langsung menurunkan ambang batas harga minimum untuk inklusi. Dengan struktur kepemilikan yang relatif bersih serta likuiditas yang konsisten, PTRO dinilai menjadi salah satu saham yang paling diuntungkan dari penggunaan data KSEI dalam metodologi MSCI.

“Namun demikian, berbeda dengan BUMI, peluang PTRO tetap sangat bergantung pada performa harga saham hingga mendekati akhir periode review,” katanya.

Potensi FILM dan TINS

Sementara itu, meskipun secara ukuran dan free float saham FILM telah berada di atas threshold MSCI, emiten ini masih menghadapi kendala metodologi akibat pernah disuspensi lebih dari satu hari. Imam menyebut kondisi itu menempatkan FILM dalam kategori watchlist sehingga peluang terjadinya inklusi maupun perpindahan segmen ukuran pada periode review MSCI yang sedang berjalan cenderung terbatas.

“Dengan demikian, peluang FILM untuk masuk pada Februari 2026 kami nilai terbatas, dengan potensi baru kembali terbuka pada review selanjutnya apabila tidak terdapat isu suspend lanjutan,” ujar Imam.

Tak hanya itu Imam juga memproyeksikan TINS memiliki potensi jangka menengah untuk masuk radar MSCI, terutama jika harga timah terus membaik dan kapitalisasi pasarnya meningkat. 

Ia juga menilai TINS punya daya tarik tematik bagi investor asing terutama di tengah meningkatnya perhatian terhadap rantai pasok logam strategis. Namun, secara relatif, kesiapan TINS untuk masuk MSCI masih di bawah PT Bumi Resources Tbk (BUMI). 

“Tantangan utama TINS saat ini bukan pada fundamental bisnis, melainkan pada aspek effective foreign investability,” ucap Imam kepada Katadata.co.id, Rabu (7/1).

Lalu Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, juga melihat TINS masih berpeluang masuk MSCI jika harga timah tetap tinggi, kinerja laba membaik signifikan, dan free float efektif meningkat. Namun, peluang tersebut diperkirakan terjadi secara bertahap. 

“Tantangan TINS ada pada volatilitas komoditas, struktur biaya, dan konsistensi profit,” kata Liza kepada Katadata.co.id, Rabu (7/1).

Liza juga mengaku pada MSCI Review Februari 2026 ihwal rencana penggunaan data KSEI untuk perhitungan free float, peluang inklusi akan lebih besar bagi saham-saham dengan likuiditas tinggi, free float riil yang besar, serta transaksi asing yang konsisten.

Menurut Liza, sektor yang paling berpotensi diuntungkan di antaranya perbankan raksasa, energi, dan consumer defensif.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...