Indeks Wall Street Anjlok Usai Trump Ancam Tarif Baru Terkait Greenland

Nur Hana Putri Nabila
21 Januari 2026, 06:58
Bursa efek New York atau Wall Street
NYSE
Bursa efek New York atau Wall Street
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Indeks utama Wall Street anjlok pada perdagangan Selasa (20/1) setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump soal Greenland memicu ketegangan geopolitik.

Trump mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap negara-negara yang menentang rencana penjualan wilayah Denmark ke AS.

Imbal hasil obligasi Treasury AS melonjak dan dolar AS kian melemah. Kekhawatiran terhadap keberlanjutan utang AS juga mendorong arus keluar dari aset Amerika. Tak hanya itu dana pensiun Denmark, AkademikerPension, menyatakan akan melepas kepemilikan obligasi Treasury AS karena risiko keuangan.

Imbas dari itu Dow Jones Industrial Average melemah 870,74 poin atau 1,76% ke level 48.488,59. S&P 500 turun 2,06% dan ditutup di 6.796,86, sementara Nasdaq Composite anjlok 2,39% ke 22.954,32. Pergerakan pada Selasa menjadi sesi terburuk bagi ketiga indeks utama sejak Oktober 2025.

Akibat koreksi tersebut, S&P 500 dan Nasdaq masuk ke zona negatif sepanjang 2026. S&P 500 tercatat turun 0,7% year to date (YtD), sedangkan Nasdaq yang didominasi saham teknologi melemah 1,2%. Indeks volatilitas Cboe (VIX), yang kerap disebut sebagai “pengukur ketakutan” Wall Street, melonjak ke level tertinggi di 20,99.

Tak hanya itu, meningkatnya ketegangan politik setelah Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa impor AS dari delapan negara anggota NATO akan dikenakan tarif bertahap hingga tercapai kesepakatan pembelian penuh untuk mengambil Greenland. Tarif awal ditetapkan sebesar 10% mulai 1 Februari dan naik menjadi 25% pada 1 Juni.

Trump juga mengancam tarif hingga 200% terhadap anggur dan champagne asal Prancis, menyusul laporan Presiden Prancis Emmanuel Macron enggan bergabung dalam apa yang disebut Trump sebagai Dewan Perdamaian Gaza. 

Selain itu, Trump mengkritik rencana Inggris menyerahkan kedaulatan Kepulauan Chagos kepada Mauritius dan menyebut langkah tersebut sebagai “kebodohan besar”. Ia menegaskan isu tersebut menjadi salah satu alasan keamanan nasional yang memperkuat ambisi Trump untuk mengakuisisi Greenland.

Kepala investasi Wealthspire, Brad Long, mengatakan ia tidak terkejut perkembangan terbaru Trump bisa menekan pasar saham. Hal itu karena valuasi dan ekspektasi laba sudah berada di level sangat tinggi.

Ia menilai, meskipun isu tarif maupun Greenland bukanlah hal baru, namun pasar masih menunbggu penggunaan tarif sebagai senjata jangka pendek untuk mencapai tujuan yang bersinggungan dengan geopolitik.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump di KTT ASEAN, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/8).
Presiden Amerika Serikat Donald Trump di KTT ASEAN, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (26/8). (Youtube/White House)

Apabila sebelumnya Eropa tidak terdampak tarif sepanjang 2025, kini justru tertekan langsung ke delapan sekutu terdekat AS di Eropa, dengan ancaman tarif 10% hingga 25%.

“Kita kembali mengalami volatilitas April 2025 akibat ketidakpastian Trump dan perubahan kebijakan,” kata Long dikutip dari CNBC, Rabu (21/1).

Pemimpin Eropa menilai ancaman tarif baru Trump tidak dapat diterima dan dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah balasan. Prancis bahkan disebut mendorong Uni Eropa untuk menggunakan senjata ekonomi terkuatnya, yakni Anti-Coercion Instrument.

Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, mengatakan di balik defisit perdagangan dan perang dagang terdapat risiko perang modal. Dalio menilai konflik semacam ini berpotensi mengubah arus modal global, termasuk berkurangnya minat untuk membeli utang AS.

Trump yang sempat dijadwalkan berbicara di Davos pada Rabu, menyatakan telah sepakat untuk berdialog dengan para pemimpin Eropa di sela konferensi untuk membahas Greenland.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent membela rencana itu, dengan menyebut pengambilalihan Greenland justru dapat mencegah konflik militer sejak dini.




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...