Saham Konglomerat PTRO hingga CUAN Bangkit Cepat Usai Longsor, Intip Pemicunya

Karunia Putri
30 Januari 2026, 08:09
IHSG Saham
Katadata/Fauza Syahputra
Pekerja berjalan di dekat layar digital yang pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (9/1/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga saham sederet emiten terafiliasi konglomerat Tanah Air sudah mulai bangkit jelang penutupan perdagangan kemarin, Kamis (29/1). Padahal pada sesi pertama, harga saham-saham tersebut masih terpantau anjlok dan bahkan menyentuh batas bawah atau Auto Rejection Bawah (ARB). 

Turunnya IHSG terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan hasil konsultasi mengenai perubahan metodologi perhitungan porsi saham publik atau free float. MSCI menyoroti data pemegang saham yang diserahkan otoritas pasar modal RI. 

Di antara saham-saham konglomerat, gerak mencolok ditunjukkan emiten Prajogo Pangestu yang cepat pulih setelah dihantam hingga anjlok selama dua hari. Saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) misalnya ditutup melonjak 18,59% ke level 1.850. Padahal pada sesi pertama kemarin, harga saham CUAN sempat anjlok hingga 13,14%.

Tak hanya itu, PT Petrosea Tbk (PTRO) juga sudah kembali menghijau dengan kenaikan 2,74% ke level 7.500, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) naik 3,78% ke level 1.235 dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) tumbuh 4,52% ke level 8.675.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai, cepatnya pemulihan saham-saham konglomerasi dan berkapitalisasi besar menunjukkan tekanan pasar sebelumnya lebih bersifat sentimen jangka pendek. Menurutnya, koreksi tajam justru dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi.

“Saham konglomerasi memiliki karakteristik rebound yang lebih cepat. Karena itu, saham seperti CUAN, PTRO, SSIA, dan lainnya yang cepat pulih turut menstabilkan pergerakan IHSG,” ujar Reydi kepada Katadata.co.id, Kamis (29/1).

Reydi menambahkan, pasar mulai menilai isu MSCI dan trading halt telah mereda sehingga risiko lanjutan relatif terbatas. Investor masih menaruh kepercayaan pada saham berfundamental kuat dan berskala besar. Ke depan, pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan tetap dipimpin saham-saham big cap dan konglomerasi, meski volatilitas jangka pendek masih berpotensi terjadi.

Senada, Head of Research Korea Investment Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, memandang kebangkitan saham konglomerasi turut didorong oleh respons cepat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menyikapi isu MSCI.

“Jadi kasih sinyal confidence ke pasar. Tapi isu ini belum sepenuhnya beres. Masih ada ketidakpastian, dan sampai isu ini selesai, pasar masih akan volatil,” kata Wafi.

Naik turunnya saham-saham konglomerasi memang menjadi sorotan para pelaku pasar. Pasalnya, sejumlah saham konglomerasi menjadi penopang naiknya IHSG dalam satu tahun terakhir. 

Tak heran ketika sederet saham tersebut ambruk, IHSG langsung rontok lebih dari 8% selama dua hari berturut-turut. Pada perdagangan hari ini, Bursa Efek Indonesia bahkan kembali menghentikan perdagangan saham secara sementara (trading halt).

Di sisi lain, selain Prajogo Pangestu ada nama konglomerat lain yang sering disebut-sebut investor karena gerak sahamnya yang melesat signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Misalnya saham dekapan Happy Hapsoro, Grup Bakrie, Grup Hary Tanoesoedibjo hingga Grup Garibaldi Thohir alias Boy Thohir. 

Namun, hingga penutupan perdagangan kemarin, harga saham emiten-emiten konglomerat tersebut masih parkir di zona merah. 

3 Poin Respons OJK-SRO terkait Pengumuman MSCI

Lebih jauh mengenai bangkitnya saham konglomerasi menurut Wafi juga ditopang pengumuman Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI). Dalam pengumuman kemarin, OJK dan jajaran Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal membeberkan tindakan lanjutan usai pengumuman MSCI yang menangguhkan rebalancing indeks saham Indonesia untuk Februari 2026.  

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, pihaknya menerima penjelasan tersebut sebagai masukan yang baik. Menurutnya, MSCI tetap ingin memasukkan saham-saham emiten Indonesia ke dalam indeks global. Tak hanya itu, ia menyebut pasar modal Indonesia masih potensial dan investable bagi investor internasional.

OJK bersama SRO juga menyiapkan sejumlah langkah. Pertama, OJK dan SRO menindaklanjuti proposal atau penyesuaian yang telah dilakukan oleh BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) yang sudah dipublikasikan. Mahendra mengatakan, saat ini proposal itu masih dipelajari oleh MSCI apakah sesuai dengan yang mereka butuhkan.

Penyesuaian tersebut antara lain mengecualikan investor dalam kategori corporate dan others dalam perhitungan free float. Lalu juga memublikasikan kepemilikan saham di atas dan di bawah 5% untuk masing-masing kategori kepemilikan.  

“Nah, seperti saya katakan bahwa penyesuaian tadi itu sedang dikaji lebih jauh oleh MSCI,” kata Mahendra dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Kamis (29/1). 

Kedua, SRO akan menerbitkan aturan mengenai kewajiban free float minimal 15% dalam waktu dekat dengan tingkat transparansi yang baik. Mahendra mengatakan emiten atau perusahaan publik yang dalam jangka waktu tertentu sebagaimana diatur tidak dapat memenuhi ketentuan tersebut akan dikenakan exit policy melalui proses pengawasan.

Sementara yang ketiga, Mahendra mengatakan bahwa pemerintah akan menerbitkan peraturan terkait demutualisasi bursa yang akan tuntas pada kuartal pertama tahun ini.




Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...