Rupiah Melemah Tipis ke 16.787 per Dolar AS saat IHSG Rontok Lagi
Nilai tukar rupiah melemah tipis 0,01% ke level 16.787 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi ini, Senin (2/2) di tengah kembali rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Melansir data Bloomberg, rupiah dibuka menguat 10 poin ke level 17.776 per dolar AS. Namun, rupiah bergerak melemah ke level 16.787 per dolar AS hingga pukul 09.50 WIB.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana mengatakan, sejumlah faktor global dan domestik mempengaruhi hal tersebut. Dari dalam negeri, hal ini bisa dipengaruhi karena hasil keputusan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Sentimen hasil keputusan BEI dan OJK di pagi ini. Faktor lainnya adalah rilis manufacturing PMI Indonesia, inflasi, dan juga trade balance,” kata Fikri kepada Katadata, Senin (2/2).
Sedangkan dari sisi global, kurs rupiah dipengaruhi oleh Producer Price Index (PPI) AS yang meningkat di Desember 2025. PPI AS merupakan indikator ekonomi bulanan yang mengukur perubahan rata-rata harga jual yang diterima produsen domestik atas barang dan jasa yang mereka hasilkan.
“(Faktor lainnya) ekspektasi relatif hawkish-nya Kevin Warsh,” kata dia.
Hawkish adalah istilah yang menggambarkan sikap agresif bank sentral untuk mengendalikan inflasi, biasanya melalui pengetatan seperti menaikkan suku bunga dan mengurangi peredaran uang.
IHSG kembali anjlok 4,29% ke level 7.927 pada perdagangan hingga pukul 10.00 WIB. Indeks tertekan longsornya harga saham emiten tambah emas imbas rontoknya harga logam mulia dunia di pasar spot.
Mengutip Bloomberg, harga emas mencatat penurunan tajam setelah reli panjang, bahkan menjadi penurunan terbesar dalam lebih dari satu dekade. Pada perdagangan Senin, harga emas spot sempat merosot hingga 6,3%. Sementara itu, harga perak bergerak sangat volatil dan turun ke kisaran US$ 75 per ons, setelah sebelumnya sempat naik hingga 3,2%. Perak mencatat kerugian intraday terbesar sepanjang sejarah pada sesi sebelumnya.
“Ini belum berakhir. Kita perlu melihat apakah harga akan menemukan level dukungan. Intinya, perdagangan sebelumnya terlalu padat,” ujar mantan pedagang logam mulia JPMorgan Chase & Co Robert Gottlieb dikutip dari Bloomberg, Senin (2/2).
Sepanjang tahun lalu, harga logam mulia melonjak ke rekor tertinggi, didorong oleh kekhawatiran geopolitik, pelemahan mata uang global serta isu independensi bank sentral Amerika Serikat. Reli semakin menguat pada Januari, seiring derasnya pembelian emas dan perak, termasuk dari spekulator asal Tiongkok.
Aksi jual tajam dipicu kabar bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed). Langkah tersebut mendorong penguatan dolar AS dan melemahkan sentimen investor terhadap aset lindung nilai. Pelaku pasar menilai Warsh sebagai figur yang sangat hawkish terhadap inflasi, sehingga meningkatkan ekspektasi kebijakan moneter yang mendukung dolar dan menekan harga emas.
