Aksi Emiten Prajogo Pangestu CDIA dan BREN Buyback Saham Total Rp 3 Triliun
Duo emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu mengumumkan akan melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan total mencapai Rp 3 triliun. Kedua emiten tersebut adalah PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dan Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Secara terperinci, BREN menyiapkan dana maksimal Rp 2 triliun untuk buyback saham yang berasal dari dana internal. Aksi korporasi ini berlangsung mulai 4 Februari hingga 3 Mei 2026 dan menunjuk BNI Sekuritas untuk melaksanakannya.
“Besarnya volume buyback yang akan dilakukan oleh perseroan dalam satu hari bursa tidak dibatasi,” ucap manajemen BREN dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (5/2).
Emiten EBT Prajogo itu membukukan laba bersih sebesar US$ 106,55 juta pada kuartal III 2025. Jumlah tersebut naik 23,8% dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar US$ 86,06 juta. Tumbuhnya laba bersih perseroan salah satunya didorong oleh kenaikan pendapatan menjadi US$ 457,39 juta, meningkat 3,6% YoY dari US$ 441,29 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pundi-pundi kekayaan BREN berasal dari penjualan listrik sebesar US$ 215,03 juta, segmen pendapatan sewa operasi senilai US$ 116,09 juta, penjualan uap sebesar US$ 94,70 juta, serta pendapatan sewa senilai US$ 31,55 juta.
Pendapatan biaya manajemen menjadi US$ 22.000 dan penjualan kredit karbon sebesar US$ 1.000. Kemudian, perseroan mencatatkan kenaikan beban depresiasi dan amortisasi menjadi US$ 71,05 juta.
Adapun CDIA berencana melakukan buyback saham sebanyak-banyaknya sebesar Rp 1 triliun. Jumlah maksimum saham yang dapat dibeli kembali tetap akan memperhatikan jumlah saham free float perseroan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Rencana aksi korporasi itu dalam jangka waktu 6 Februari 2026–5 Mei 2026. Perseroan telah menunjuk PT Henan Putihrai Sekuritas untuk melakukan pembelian kembali saham tersebut.
Manajemen CDIA menyatakan, pembelian kembali saham menjadi salah satu upaya perseroan untuk meningkatkan nilai bagi pemegang saham. Aksi ini juga untuk meningkatkan kinerja saham sesuai dengan kondisi fundamental CDIA. Buyback ini juga diharapkan menjaga stabilisasi harga saham CDIA dan menjaga kepercayaan publik.
“Perseroan yakin buyback saham tidak akan memberikan pengaruh negatif terhadap kinerja, pendapatan, dan pembiayaan karena perseroan memiliki arus kas dan modal kerja yang memadai untuk membiayai kegiatan usaha, belanja modal, dan buyback,” tulis manajemen CDIA, dalam keterangannya.
CDIA meraup laba bersih sebesar US$ 77,60 juta atau sekitar Rp 1,29 triliun hingga kuartal ketiga 2025. Torehan itu melonjak hingga 266,2% YoY dibanding periode yang sama sebelumnya sebesar US$ 21,19 juta atau Rp 352,58 miliar pada 2024.
Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan perusahaan juga melonjak 42% YoY menjadi US$ 104,82 juta atau sekitar Rp 1,74 triliun dari periode yang sama sebelumnya sebesar US$ 73,83 juta atau Rp 1,22 triliun pada 2024.
Secara terperinci, pendapatan CDIA berasal dari penjualan daya listrik dan jasa kelistrikan lainnya sebesar US$ 68,23 juta dan penjualan bahan bakar sebesar US$ 7,72 juta. Kemudian diikuti jasa sewa kapal sebesar US$ 24,67 juta dan sewa tangki dan dermaga US$ 4,19 juta. Dari sisi neraca, total aset CDIA melonjak 48,1% menjadi US$ 1,6 miliar dibandingkan US$ 1,08 miliar pada akhir 2024.
Jumlah ekuitas juga melonjak 52,9% menjadi US$ 1,15 miliar sepanjang Januari–September 2025. Dari sisi liabilitas, CDIA membukukan kenaikan 36,9% menjadi US$ 449,6 juta, utang berbunga jangka panjang turut naik 36,9% menjadi US$ 400,8 juta. Sementara itu, posisi kas dan setara kas ditambah surat berharga melonjak hingga 123,5% menjadi US$ 705,4 juta.
