Efek Domino MSCI: UBS hingga Goldman Turunkan Rating, Moody's Revisi Outlook RI
Dampak sentilan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar modal Indonesia mulai meluas. Tak hanya menekan peringkat saham Indonesia di sejumlah lembaga keuangan global, sorotan MSCI juga merembet ke peringkat utang RI.
Terbaru, Moody’s Ratings merevisi outlook peringkat utang Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif, Kamis (5/2). Moody’s menyatakan, perubahan outlook itu didorong oleh menurunnya prediktabilitas dalam perumusan kebijakan pemerintah.
Kondisi itu dinilai berisiko melemahkan efektivitas kebijakan serta kualitas tata kelola pemerintahan. Jika berlanjut, tren tersebut berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang selama ini menopang stabilitas makroekonomi dan pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, Moody's tetap mempertahankan peringkat kredit jangka panjang mata uang lokal dan asing di level Baa2. level Baa2 berada satu tingkat di atas batas layak investasi (investment grade).
Moody’s menyatakan, penetapan peringkat Baa2 itu mencerminkan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia. Hal ini ditopang oleh kekuatan struktural seperti kekayaan sumber daya alam dan bonus demografi.
“Terlepas dari munculnya risiko, penegasan (peringkat Baa2 untuk Indonesia) tersebut juga didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang bijaksana yang telah menghasilkan stabilitas makroekonomi,” tulis Moody’s dalam pernyataan resminya.
Lembaga pemeringkat tersebut juga menyoroti ekspansi sejumlah program sosial, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Sejauh ini, program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu dibiayai melalui realokasi dan pemangkasan belanja kementerian, termasuk anggaran pemeliharaan infrastruktur. Ekspansi lanjutan program-program tersebut dinilai berpotensi menekan fleksibilitas fiskal.
Selain itu, Moody’s mencermati pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sebagai sovereign wealth fund (SWF) yang mengelola aset BUMN senilai lebih dari US$ 900 miliar atau sekitar 60% dari produk domestik bruto (PDB) nominal Indonesia pada 2025. Ketidakpastian terkait tata kelola, pendanaan, dan prioritas investasi Danantara dinilai berpotensi memunculkan risiko kewajiban kontinjensi bagi pemerintah, meski asumsi dasar Moody’s tetap mengarah pada perbaikan kelembagaan ke depan.
S&P Nilai Outlook Indonesia Masih Stabil
Sementara itu, dalam pengumuman terbaru hari ini, Jumat (6/2), S&P menilai outlook Indonesia masih stabil dengan posisi fiskal jadi risiko. Mengutip Bloomberg, S&P Global Ratings menyatakan risiko penurunan utama terhadap peringkat utang Pemerintah Indonesia adalah melemahnya posisi fiskal secara signifikan.
“Pelemahan fiskal lebih lanjut dapat memberikan tekanan ke bawah terhadap peringkat utang Indonesia, kecuali terdapat perbaikan yang mengimbangi pada indikator kredit lainnya,” ujar analis sovereign S&P Global Ratings Rain Yin dalam pernyataannya dikutip Jumat (6/2).
S&P menyebut risiko tersebut dapat tercermin dari peningkatan utang bersih pemerintah secara umum yang melebihi 3% dari produk domestik bruto (PDB) per tahun, serta pembayaran bunga yang secara konsisten melampaui 15% dari total pendapatan negara.
Kendati demikian, S&P menilai volatilitas harga saham yang terjadi belakangan ini belum berdampak signifikan terhadap pandangan lembaga tersebut atas peringkat utang Indonesia.
“Kami tidak memperkirakan kinerja ekonomi dan fiskal Indonesia akan terdampak negatif secara signifikan apabila pemerintah merespons dengan langkah-langkah untuk memitigasi dampak terhadap kepercayaan investor,” tulis S&P.
S&P juga menegaskan outlook Indonesia saat ini masih stabil. Artinya, risiko kenaikan maupun penurunan peringkat dinilai relatif berimbang, dengan mempertimbangkan potensi pertumbuhan ekonomi yang kuat, di tengah basis ekspor dan penerimaan fiskal yang relatif sempit. Sementara itu, hingga saat ini S&P belum menerbitkan penilaian resmi terbaru atas peringkat kredit Indonesia.
Nomura Turunkan Peringkat Saham Indonesia Jadi Netral
Sebelumnya, broker asal Jepang Nomura Holdings Inc menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral dari overweight. Langkah tersebut diambil seiring meningkatnya risiko investasi dan potensi arus keluar dana pasif, menyusul keputusan MSCI membekukan rebalancing indeks saham Indonesia.
Mengutip Bloomberg, strategist Nomura Chetan Seth mengatakan, peringatan MSCI terkait potensi penurunan status Indonesia menjadi pasar frontier (perintis) mengejutkan pelaku pasar. Padahal, rekomendasi positif sebelumnya didasarkan pada valuasi pasar yang relatif menarik, ekspektasi stabilisasi ekonomi, kinerja laba korporasi, serta rendahnya ekspektasi pasar setelah pelemahan kinerja jangka panjang.
“Saham dan mata uang menciptakan profil risiko-imbalan yang potensial menarik bagi investor yang sabar,” ujar Seth dalam catatannya, dikutip Selasa (3/1).
Goldman Sach Pangkas Rating Pasar Saham RI
Sebelum Nomura, Goldman Sachs Group Inc. Bank investasi asal Amerika Serikat sudah lebih dulu menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi underweight.
Goldman Sachs memperingatkan kekhawatiran MSCI terhadap kelayakan investasi di Indonesia berpotensi memicu arus keluar dana asing lebih dari US$ 13 miliar atau sekitar Rp 218,2 triliun, terutama jika status Indonesia diturunkan. Dalam skenario ekstrem, dana pasif yang mengikuti indeks MSCI diperkirakan keluar hingga US$ 7,8 miliar. Tambahan arus keluar sekitar US$ 5,6 miliar juga berpotensi terjadi jika FTSE Russell meninjau ulang metodologi dan status free float Indonesia.
“Kami memperkirakan penjualan pasif lebih lanjut dan menganggap perkembangan ini sebagai hambatan yang akan menghambat kinerja pasar,” tulis analis Goldman Sachs, termasuk Timothy Moe, dalam laporannya yang dikutip Bloomberg, Kamis (29/1).
Goldman juga mencatat manajer dana aktif regional saat ini masih overweight di pasar Indonesia. Namun, tekanan dari potensi penurunan peringkat, berkurangnya likuiditas, dan volatilitas pasar dapat mendorong penyesuaian portofolio, termasuk oleh investor long-only dan hedge fund.
UBS Ikut Turunkan Peringkat Saham RI
UBS AG turut menurunkan peringkat saham Indonesia menjadi netral. Bank investasi asal Amerika Serikat itu menilai tekanan pasar berpotensi berlanjut hingga terdapat kejelasan terkait regulasi dan penilaian ulang MSCI.
“Kami pikir tekanan pada pasar secara keseluruhan kemungkinan akan berlanjut sampai kita mendapatkan kejelasan tentang peraturan dan penilaian ulang MSCI,” tulis analis UBS, termasuk Sunil Tirumalai, dalam catatan yang dikutip Bloomberg, Kamis (29/1).
Selain faktor MSCI, UBS juga menyoroti meningkatnya risiko kebijakan domestik, termasuk rencana pengalihan 28 izin usaha perusahaan yang dicabut kepada Danantara. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi menambah ketidakpastian bagi investor.
