BEI Ingatkan Investor Tetap Rasional di Saat Konflik, Cermati Fundamental Saham

Karunia Putri
2 Maret 2026, 11:18
Direktur Pengembangan PT BEI, Jeffrey Hendrik menyampaikan paparan saat Konferensi Pers Dialog Bersama Pelaku Pasar Modal di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/3/2025). Konferensi pers tersebut membahas mengenai "Solidaritas dan Sinergi Pemangku K
Katadata/Fauza Syahputra
Direktur Pengembangan PT BEI, Jeffrey Hendrik menyampaikan paparan saat Konferensi Pers Dialog Bersama Pelaku Pasar Modal di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/3/2025). Konferensi pers tersebut membahas mengenai "Solidaritas dan Sinergi Pemangku Kepentingan Pasar Modal".
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimbau investor untuk tetap berinvestasi secara rasional dan berfokus pada fundamental perusahaan di tengah tekanan yang terjadi di pasar saham. Imbauan ini disampaikan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 2,32% atau 191,33 poin ke level 8.044 pada perdagangan intraday pukul 09.18 WIB.

Pelemahan indeks dipicu meningkatnya eskalasi konflik geopolitik setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran melalui jalur udara dan laut pada Sabtu pekan lalu. Iran pun membalas serangan dan eskalasi meluas ke beberapa wilayah di Timur Tengah. 

Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, ketidakpastian global akibat memanasnya konflik geopolitik berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan, termasuk pasar modal Indonesia. Karena itu, ia meminta pelaku pasar tetap tenang dalam mengambil keputusan investasi.

“Kami menghimbau investor tetap rasional dan selalu memperhatikan fundamental,” ujar Jeffrey dalam keterangan resminya dikutip Senin (2/3).

Selain itu, Jeffrey juga menyarankan investor menyesuaikan strategi investasinya dengan profil risiko masing-masing agar dapat menghadapi volatilitas pasar.

Di sisi lain, Kiwoom Sekuritas melihat tensi geopolitik global yang terus meningkat berpotensi membuat pergerakan pasar masih diliputi ketidakpastian dalam jangka pendek. Riset Kiwoom merekomendasikan investor untuk mengurangi porsi portofolio dan sementara waktu mengambil sikap wait and see.

Meski demikian, Kiwoom menilai pasar Indonesia yang berbasis komoditas berpeluang mendapatkan sentimen positif, berkaca pada pengalaman saat pecahnya perang Rusia-Ukraina pada 2022. Saat itu, kenaikan harga komoditas mendorong IHSG menguat sekitar 5% sejak awal invasi pada 24 Februari 2022 hingga mencapai puncaknya pada April 2022.

Dengan catatan berisiko tinggi, peluang trading pada saham berbasis komoditas seperti energi dan emas dinilai masih terbuka, selama investor menerapkan disiplin manajemen risiko yang ketat.

Secara teknikal, Kiwoom memproyeksikan level support (batas terendah) IHSG berada di kisaran 8.000–7.950 dan 7.840.

Seiring dengan rontoknya indeks pada perdagangan intraday hari ini, sederet harga saham konglomerasi jeblok pada perdagangan hari ini. Misalnya, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) anjlok 11, 21% ke level 190, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) merosot 4,52% ke level 1.900, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) turun 4,76% ke level 1.00 serta PT Sanurhasta Mitra tBK (MINA) rontok 9,28% ke level 532.

Sementara itu, saham-saham sektor energi dan emas justru menguat. Contoh saja saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) menguat 4,89% ke level 4.720, PT Energi Mega persada Tbk (ENRG) 10,80% ke level 1.950 dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) melesat 7,30% ke level 9.925.

Sementara itu saham emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) melonjak 4,37% ke level 4.540, PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) naik 3,46% ke level 1.945 dan PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) naik 3,90% ke level 8.650.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...