BEI Antisipasi Potensi Volatilitas akibat Short Selling dan Harga Saham Rp 1

Karunia Putri
16 September 2026, 13:49
BEI
Katadata/Zulfiq Ardi N/AI
Ilustrasi volatilitas pergerakan harga saham di tengah penerapan short selling di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan telah menghitung potensi dampak terhadap pasar dari penerapan kembali transaksi short selling yang dijalankan berbarengan dengan penerapan kebijakan penurunan harga minimum saham dari Rp 50 menjadi Rp 1 per saham. Sebelumnya, analis menilai penerapan ini akan memicu volatilitas di pasar.

Direktur Pengembangan BEI, Iding Pardi mengatakan, bursa telah mengidentifikasi saham-saham yang harganya berada di bawah Rp 50 serta menghitung potensi dampak penerapan kebijakan tersebut terhadap pasar.

“Untuk saham-saham yang di bawah Rp 50 harganya, yang kemudian nanti kita buka floor price-nya itu juga kita sudah identifikasi dan dampaknya ke market kami harapkan memang tidak terlalu besar,” kata Iding dalam agenda Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Rabu (16/9).

Dia menuturkan, BEI berharap penerapan kedua kebijakan tersebut tidak memberikan dampak besar terhadap pergerakan pasar. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya bursa menciptakan pasar yang lebih adil dan meningkatkan proses pembentukan harga atau price discovery.

“kami berusaha membuat market kami atau market kita lebih fair, price discovery-nya lebih baik ,” ujarnya.

Short selling adalag transaksi penjualan saham yang dilakukan investor dengan meminjam saham terlebih dahulu. Investor kemudian berharap dapat membeli kembali saham tersebut pada harga yang lebih rendah untuk mengembalikan saham yang dipinjam sekaligus memperoleh keuntungan dari selisih harga.

Berbeda dengan transaksi saham biasa, short selling memiliki risiko kerugian yang relatif tinggi karena investor menjual saham sebelum membelinya kembali. Transaksi ini umumnya dilakukan oleh investor berpengalaman yang memiliki analisis dan perkiraan kuat terhadap pergerakan harga saham.

Rencana pemberlakuan kembali transaksi short selling telah bergulir sejak pertengahan 2024. BEI sebelumnya menargetkan implementasi pada kuartal pertama 2025, tetapi kemudian menundanya hingga kuartal kedua 2025. Penundaan kembali terjadi hingga BEI menjadwalkan pelaksanaan short selling pada 17 Maret 2026. Namun, rencana tersebut kembali ditunda.

Kini, BEI kembali membuka implementasi transaksi short selling secara bertahap mulai 15 September 2026.

Pemberlakuan kembali transaksi tersebut merupakan bagian dari upaya pendalaman pasar keuangan Indonesia. Short selling diharapkan memberikan fleksibilitas lebih bagi investor sekaligus meningkatkan likuiditas perdagangan saham.

Melalui implementasi secara bertahap, BEI juga akan menyesuaikan pelaksanaan transaksi dengan kesiapan infrastruktur, pengelolaan risiko, dan efektivitas pengawasan di pasar modal.

Sebelumnya, analis menilai penerapan short selling bersamaan dengan penurunan batas minimum harga saham perlu dicermati karena dapat meningkatkan volatilitas pasar.

Head of Research and Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto mengatakan, penerapan kedua kebijakan tersebut secara bersamaan berpotensi menimbulkan sentimen negatif di pasar.

“Kalau diterapkan secara bersamaan saya rasa harus lebih berhati-hati. Ada risiko kalau kedua kebijakan tersebut diterapkan secara bersamaan,” kata Rully dalam Media Day Mirae September 2026 secara virtual, Selasa (15/9).

Menurut Rully, dengan diimplementasikannya short selling dan penurunan batas minimum harga saham secara berbarengan dapat membuat pergerakan harga saham menjadi lebih ekstrem. Kondisi tersebut berpotensi mendorong sentimen negatif yang berlebihan di pasar.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...