Saham Konglomerat CUAN, BREN, DSSA Dinilai Masih Volatil, Ini Saran Analis
Saham-saham konglomerasi seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) masih berpotensi mengalami volatilitas tinggi di tengah tekanan pasar RI saat ini. Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa denda total Rp 2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait tiga emiten itu atas pelanggaran di pasar modal.
Senior Technical Analyst di Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, penurunan harga ketiga saham tersebut tidak serta-merta menandakan tren pelemahan akan terus berlanjut. Peluang pemulihan harga akan bergantung pada fundamental masing-masing emiten, valuasi saham, dan meredanya tekanan jual.
Menurut dia, salah satu sentimen yang membayangi pergerakan saham-saham tersebut adalah ketidakpastian kebijakan indeks MSCI, termasuk kekhawatiran terhadap kemungkinan reklasifikasi pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
“Secara umum, sentimen negatif mencakup kekhawatiran terhadap potensi reklasifikasi pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone oleh MSCI, risiko keluarnya dana asing, evaluasi terhadap free float dan struktur kepemilikan saham,” katanya kepada Katadata, Senin (26/10).
Nafan mengatakan, jika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terkoreksi, aksi jual berpotensi berlanjut. Hal itu pada gilirannya juga bakal menekan minat investor terhadap saham-saham berkapitalisasi besar.
Nafan menilai ruang koreksi juga masih terbuka apabila valuasi saham relatif mahal dibandingkan fundamental dan prospek pertumbuhan laba perusahaan.
Secara spesifik, CUAN, BREN, dan DSSA menghadapi tekanan yang berkaitan dengan pengawasan dan penegakan aturan di pasar modal. Nafan pun menyoroti sanksi administratif yang diumumkan OJK terhadap ketiga emiten tersebut, yakni berupa denda dengan total Rp 2,1 triliun. Perincian masing-masing yaitu sebesar Rp 100 miliar untuk CUAN, Rp 500 miliar untuk BREN, dan Rp 1 ,5 triliun untuk DSSA.
Di luar itu, BREN dan DSSA juga tersangkut masalah konsentrasi kepemilikan saham (HSC) yang membuat mereka bersama 78 emiten lainnya bakal dikecualikan dalam penghitungan IHSG mulai bulan depan, tepatnya 2 November 2026.
Menurut Nafan, dua persoalan itu dapat meningkatkan kehati-hatian investor terhadap aspek tata kelola dan kredibilitas pembentukan harga saham.
Peluang Rebound Masih Terbuka
Nafan mengatakan, peluang pemulihan harga saham CUAN, BREN, dan DSSA masih terbuka apabila terdapat kejelasan tindak lanjut penegakan hukum, perbaikan transparansi kepemilikan saham, serta reformasi pasar modal yang dapat memulihkan kepercayaan investor domestik dan asing.
“Investor perlu mencermati kinerja operasional, pertumbuhan pendapatan dan laba, arus kas, struktur utang, serta prospek bisnis masing-masing emiten. Perbaikan fundamental yang didukung valuasi lebih rasional dapat menjadi katalis pemulihan harga,” ujarnya.
Namun, kenaikan harga belum tentu menandakan pembalikan tren. Nafan menekankan, rebound teknikal perlu dikonfirmasi melalui peningkatan volume beli, terbentuknya pola higher low, serta keberhasilan harga menembus area resistance secara konsisten.
“Selama tekanan jual masih dominan dan ketidakpastian MSCI belum mereda, kenaikan harga berisiko hanya menjadi technical rebound sebelum kembali terkoreksi,” ujarnya.
Selain itu, kebijakan BEI untuk mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG mulai 2 November nanti juga menjadi salah satu perkembangan yang perlu dicermati. Kebijakan tersebut diharapkan meningkatkan kualitas indeks, meskipun dampaknya terhadap pemulihan kepercayaan pasar masih perlu dipantau.
Dengan kondisi tersebut, investor perlu bersikap selektif dan tidak mengasumsikan CUAN, BREN, dan DSSA akan pulih secara bersamaan. Nafan mengingatkan investor agar tidak terburu-buru melakukan averaging down hanya karena harga saham telah turun signifikan.
“Investor perlu menunggu stabilisasi harga dan sinyal akumulasi yang lebih meyakinkan,” katanya.
Saham CUAN Masih Berkonsolidasi
Dari sisi teknikal, BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) menilai saham CUAN masih bergerak dalam fase konsolidasi di area support Rp 460–Rp 525 setelah mengalami tekanan jual tajam dari kisaran Rp 900.
Dalam analisis teknikalnya, BRIDS menyebut saham ini perlu menembus level Rp 525 untuk memperkuat konfirmasi rebound. Jika berhasil melewati level tersebut, resistance berikutnya berada di kisaran Rp 590–Rp 620, yang juga menjadi area penutupan gap untuk dicermati investor.
Sebaliknya, level Rp 460 menjadi area support penting. Jika harga menembus level tersebut ke bawah, risiko pelemahan lanjutan perlu diwaspadai. BRIDS juga mencatat indikator MACD CUAN masih negatif dan berada di bawah garis sinyal. Kondisi tersebut menunjukkan momentum bearish masih dominan.
Karena itu, strategi buy on break setelah harga menembus Rp 525 dinilai lebih realistis dibandingkan membeli ketika harga masih berkonsolidasi. Di sisi lain, CUAN menjalankan program pembelian kembali saham atau buyback senilai Rp 500 miliar pada periode 19 Oktober hingga 31 Desember 2026 dengan menggunakan kas internal.
Penafian:
Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. Artikel ini bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
