10 Modus Scam Keuangan Paling Sering Terjadi, Korban Rugi Puluhan Juta Rupiah

Agustiyanti
20 Oktober 2025, 08:00
penipuan keuangan, scam, scam keuangan, OJK
Freepik.com
Ilustrasi. Indonesia Anti-Scam Center paling banyak menerima laporan terkait jenis penipuan transaksi belanja online.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Otoritas Jasa Keuangan mencatat, terdapat 10 modus penipuan atau scam keuangan yang paling sering dilaporkan kepada Indonesia Anti-Scam Center. Rata-rata korban mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK Frederica Widyasari Dewi menjelaskan, Indonesia Anti-Scam Center telah menerima sekitar 300 ribu laporan sejak organisasi tersebut dibentuk pada November 2024. Total kerugian masyarakat mencapai Rp 7 triliun.

“Rata-rata laporan penipuan di Indonesia ini mencapai 874 per hari. Ini luar biasa, dibandingkan negara lain.” ujar Frederica dalam media briefing OJK di Purwokterto, akhir pekan lalu.

Ia, antara lain mencatat, rata-rata laporan penipuan keuangan di Singapura mencapai 140 per hari dan Hong Kong mencapai 115 per hari. Dari laporan yang diterima Indonesia Anti Scam Center, terdapat 10 modus penipuan yang paling sering terjadi, sebagai berikut:

1. Penipuan transaksi belanja online

Fredrica menjelaskan, jenis penipuan transaksi belanja online paling banyak terjadi biasanya karena calon pembeli mengincar produk dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan harga pasaran. "Kadang ada yang menawarkan barang sangat miring, ya kok orang percaya saja," ujar Fredica. 

Jumlah laporan yang masuk terkait penipuan belanja online ini mencapai 53.928 laporan dengan total kerugian mencapai Rp 988 miliar. Rata-rata korban mengalami kerugian mencapai Rp 18,33 juta.

2. Penipuan mengaku pihak lain atau fake call

Jumlah laporan yang masuk mencapai 31.299 laporan dengan total kerugian mencapai Rp 1,31 triliun. Rata-rata korban mengalami kerugian mencapai Rp 42,04 juta. "Contohnya adalah yang dialami Pak Bupati kemarin (Bupati Purwokerto Sadewo Tri Lastiono." ujar Frederica

Sadewo sebelumnya bercerita, namanya beberapa kali digunakan dalam penipuan keuangan. “Yang kurang ajar, ada yang pakai nama saya di whatsapp. Seolah saya butuh uang dan mau jual mobil. Ada yang kena Rp 5 juta,” ujar Sadewa dalam gelaran Puncak Bulan Inklusi Keuangan di Purwokerto, Jawa Tengah, Sabtu (18/10).

Ia mengatakan, penipuan keuangan juga semakin canggih seiring berkembangnya teknologi. Teranyar, penipu banyak menggunakan video AI untuk menjaring korban menggunakan identitasnya. 

3. Penipuan investasi

Jumlah laporan yang masuk mencapai 19.850 laporan dengan total kerugian mencapai Rp 1,09 triliun. Rata-rata korban mengalami kerugian mencapai Rp 55,21 juta.

4. Penipuan Penawaran Kerja

Jumlah laporan yang masuk mencapai 18.220 laporan dengan total kerugian mencapai Rp 656 miliar. Rata-rata korban mengalami kerugian mencapai Rp 36,05 juta.

5. Penipuan  mendapatkan hadiah

Jumlah laporan yang masuk mencapai 15.470 laporan dengan total kerugian mencapai Rp 189,91 miliar. Rata-rata korban mengalami kerugian mencapai Rp 12,29 juta.

 6. Penipuan melalui media sosial

Jumlah laporan yang masuk mencapai 14.229 laporan dengan total kerugian mencapai Rp 491,13 miliar. Rata-rata korban mengalami kerugian mencapai Rp 34,64 juta.

Dalam kasus ini, Frederica mengaku juga pernah menjadi korban saat belum bergabung dengan Otoritas Jasa Keuangan. Ia dihubungi oleh seorang teman yang mengajak untuk berdonasi masker saat Pandemi Covid-19. 

"Saya percaya saja, karena dia menggunakan panggilan yang biasanya digunakan teman. Jadi memang para penipun ini mereka melakukan profiling ke orang yang disasar," ujar dia. 

7. Phising

Phishing adalah jenis kejahatan siber yang berupaya mengelabui korban untuk mendapatkan informasi sensitif seperti kata sandi, data pribadi, atau data finansial, dengan cara menyamar sebagai pihak tepercaya seperti bank, instansi, atau layanan daring.

Jumlah laporan yang masuk terkait phising mencapai 13.386 laporan dengan total kerugian mencapai Rp 507.53 miliar. Rata-rata korban mengalami kerugian mencapai Rp 37,93 juta.

8. Social Engineering

Social engineering atau rekayasa sosial adalah manipulasi psikologis untuk menipu korban agar memberikan informasi sensitif atau melakukan tindakan yang merugikan, seperti membocorkan data pribadi, mengklik tautan berbahaya, atau mentransfer uang.

Jumlah laporan yang masuk  terkait social engineering mencapai 9.436 laporan dengan total kerugian mencapai Rp 361,26 miliar. Rata-rata korban mengalami kerugian mencapai Rp 38,33  juta.

9. Pinjaman Online Fiktif

Pelaku menggunakan data korban untuk mengajukan pinjaman online lantas menelepon korban mengaku terjadi salah transfer. “Lalu korban tidak tahu, dan dengan lugu mengirimkan uangnya ke rekening yang disebutkan. Padahal ini modus baru,” kata Frederica.

Ketika sudah terlanjur mengirimkan uangnya ke pelaku, korban akan ditagih pinjol ilegal. Jumlah laporan yang masuk terkait jenis penipuan ini mencapai 4.793 laporan dengan total kerugian mencapai Rp 40,61 miliar. Rata-rata korban mengalami kerugian mencapai Rp 8,48  juta.

10. APK (Android Package Kit) via Whatsapp

File APK (Android Package Kit) adalah format berkas untuk memasang aplikasi di perangkat Android. Biasanya, aplikasi resmi hanya tersedia di Google Play Store. APK yang dikirim melalui pesan pribadi atau tautan mencurigakan biasanya tidak resmi dan berisi malware.

Jika pengguna menginstal APK dari luar Play Store, sistem keamanan ponsel akan memberi peringatan. Namun, jika tetap dipasang, file berbahaya itu bisa berjalan di latar belakang untuk mencuri data, termasuk informasi keuangan.

Jumlah laporan yang masuk terkait penipuan jenis ini mencapai 3.684 laporan dengan total kerugian mencapai Rp 134 miliar. Rata-rata korban mengalami kerugian mencapai Rp 36,37  juta.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...