Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.948, Dibebani Eskalasi Konflik AS-Iran

Image title
20 Juli 2026, 16:27
rupiah, konflik Iran - AS, perang Iran vs AS-Israel
Katadata/Fauza Syahputra
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan sore ini di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan sore ini di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup melemah 27 poin ke level Rp 17.948 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di Rp 17.921 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat tertekan hingga melemah 60 poin.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah berasal dari memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Menurut Ibrahim, kedua negara saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) disebut kembali menggempur sejumlah target di Iran pada Minggu (19/7) malam. Ini merupakan respons atas serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania yang menewaskan sedikitnya dua tentara Amerika dan melukai sejumlah personel lainnya. Di sisi lain, Iran juga meningkatkan serangan terhadap negara-negara Teluk di kawasan tersebut.

"Pertempuran masih tetap berfokus pada kendali Selat Hormuz. Serangan terbaru AS bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal di Selat Hormuz," kata Ibrahim.

Ia menambahkan, eskalasi terbaru merupakan konflik paling serius antara AS dan Iran sejak sebelum gencatan senjata pada April lalu. Kondisi tersebut juga memperkecil peluang tercapainya kesepakatan damai antara kedua negara.

Situasi keamanan di Selat Hormuz turut menjadi perhatian pelaku pasar karena jalur pelayaran tersebut masih mengalami gangguan. Aktivitas pengiriman disebut masih jauh di bawah kondisi sebelum konflik, sehingga memicu kekhawatiran terhadap potensi terganggunya pasokan minyak dunia.

Akibatnya, premi risiko pada harga minyak kembali meningkat. Kenaikan harga energi juga memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi di Amerika Serikat.

Di sisi lain, meski data inflasi dan pasar tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan ekonomi, investor masih menilai kenaikan harga minyak berpotensi mempersulit langkah Federal Reserve dalam menurunkan inflasi.

"Harga minyak yang lebih tinggi telah memperbarui kekhawatiran bahwa inflasi akan tetap berada di atas target Federal Reserve sehingga berpotensi memaksa bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut biasanya mendukung penguatan dolar AS," ujar Ibrahim.

Pelemahan Rupiah Dipengaruhi Prospek Pertumbuhan Ekonomi 

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan masih berada di bawah level 5% pada kuartal II-2026.

Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional hanya mencapai sekitar 4,9% secara tahunan (year-on-year), meski realisasi investasi pada periode tersebut mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Menurutnya, capaian investasi tersebut belum mampu mengimbangi lemahnya konsumsi rumah tangga dan perlambatan investasi domestik yang masih menahan permintaan dalam negeri.

Ibrahim menjelaskan, pertumbuhan investasi saat ini lebih banyak ditopang oleh Penanaman Modal Asing (PMA) yang tumbuh 27,5% secara tahunan. Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru mengalami kontraksi 7,8%, yang merupakan penurunan pertama sejak kuartal I-2021.

"Hal ini menunjukkan kepercayaan investor asing terhadap prospek jangka panjang Indonesia masih cukup tinggi, terutama pada sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam. Namun pelaku usaha domestik masih cenderung menahan ekspansi karena lemahnya permintaan dalam negeri, tingginya biaya pendanaan, serta ketidakpastian ekonomi," ujarnya.

Karena itu, Ibrahim menilai pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara melanjutkan agenda hilirisasi dan mendorong investasi ke sektor-sektor yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi, seperti manufaktur, industri makanan dan minuman, tekstil, elektronik, hingga ekonomi digital.

“Selain itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan vokasi, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha, dan kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas investasi yang masuk,” katanya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...