BI Gelontorkan Rp 198 Triliun dari Cadev untuk Stabilkan Rupiah dan Bayar Utang

Image title
3 Agustus 2026, 19:06
BI, cadangan devisa
Katadata/Fauza Syahputra
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) III 2026 di Jakarta, Senin (3/8/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan cadangan devisa Indonesia telah berkurang sekitar US$ 11 miliar sepanjang tahun ini. Dana tersebut digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memenuhi pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Berdasarkan asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS, nilai tersebut setara dengan sekitar Rp 198 triliun.

Pejabat Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan posisi cadangan devisa Indonesia sempat mencapai sekitar US$ 156 miliar pada awal 2026. Namun, hingga akhir Juni posisinya turun menjadi sekitar US$ 145 miliar. 

"Posisi cadangan devisa kita tertinggi di 2026 itu sekitar US$ 156 miliar. Nah, sekarang ini posisinya US$ 145 miliar. Jadi teman-teman bisa membayangkan. Itu adalah pengurangan dari cadangan devisa kita," kata Destry dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Senin (3/8).

Destry mengatakan penurunan cadangan devisa tersebut digunakan untuk dua kebutuhan utama, yakni intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Termasuk itu untuk stabilisasi dan juga pembayaran utang luar negeri, khususnya dari pemerintah karena dana pemerintah juga ada di Bank Indonesia," ujarnya.

Cadangan Devisa Masih Mampu Biayai 5,4 Bulan Impor

Meski turun sekitar US$ 11 miliar atau setara Rp 198 triliun, Destry menegaskan posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang aman.

Menurut dia, cadangan devisa sebesar US$ 145 miliar masih mampu membiayai sekitar 5,4 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut jauh di atas standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Angka US$ 145 miliar itu masih relatif aman karena masih sekitar 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Sementara threshold ataupun benchmarking internasional itu adalah tiga bulan," kata Destry.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...