Emiten Low Tuck Kwong BYAN Bakal Bagi Dividen Jumbo Rp 4,75 Triliun
Perusahaan milik orang terkaya nomor dua di Indonesia Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), akan membagikan dividen interim kepada pemegang sahamnya sebesar US$ 300 juta atau setara Rp 4,75 triliun (kurs: 15.861 per dolar AS). Nilai dividen interim tersebut setara US$ 0,009 atau Rp 142,7 per saham.
Direktur Utama Bayan Resources, Low Tuck Kwong, menyatakan pembagian dividen tersebut berdasarkan keputusan direksi yang telah disetujui oleh Dewan Komisaris BYAN pada 5 Desember 2024. Sementara itu, kurs yang dipergunakan adalah kurs tengah Bank Indonesia pada saat tanggal pencatatan atau recording date.
Berdasarkan pengumuman manajemen, pembagian dividen interim didasarkan pada data keuangan per 30 September 2024. Laba bersih BYAN yang dapat diatribusikan kepada entitas induk tercatat sebesar US$ 620,80 juta atau Rp 9,84 triliun. Adapun saldo laba ditahan mencapai US$ 2,07 miliar atau Rp 32,83 dan total ekuitas BYAN sebesar US$ 2,30 miliar Rp 36,61 triliun.
Berikut ini jadwal pembagian dividen interim BYAN:
- Cum dividend di pasar reguler dan negosiasi: 17 Desember 2024
- Cum dividend di pasar tunai: 19 Desember 2024
- Ex dividend di pasar reguler dan negosiasi: 18 Desember 2024
- Ex dividend di pasar tunai: 20 Desember 2024
- Recording date: 19 Desember 2024
- Pembayaran dividen: 8 Desember 2024
Laba Bayan Resources (BYAN) Anjlok 48% di Semester I 2024
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membukukan laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 376,76 juta atau Rp 6,09 triliun pada semester I 2024. Angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 48% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama 2023 sebesar US$ 725,85 juta atau Rp 11,72 triliun.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang dikutip Jumat (2/8), pendapatan emiten batu bara itu juga merosot sebanyak 25% menjadi US$ 1,53 miliar atau Rp 24,82 triliun per Juni 2024 dari periode yang sama tahun lalu US$ 2,03 miliar (Rp 31,7 triliun).
Secara rinci, pendapatan dari penjualan batu bara kepada pihak ketiga turun 27% menjadi US$ 1,41 miliar (Rp 22,68 triliun) per Juni 2024. Kemudian, penjualan batu bara kepada pihak berelasi naik 25% menjadi US$ 116 juta (Rp 1,88 triliun). Kemudian kontribusi segmen non-batu bara naik menjadi US$ 4,40 juta (Rp 71,4 miliar) dari sebelumnya US$ 3,58 juta (Rp 57,99 miliar).
