TOBA Targetkan PLTS Terapung 46 MW di Batam Beroperasi 2026, Investasi Rp 481 M
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menargetkan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Tembesi, Batam, beroperasi komersial atau Commercial Operation Date (COD) pertengahan 2026 mendatang.
SVP Corporate Finance & Investor Relations TBS Energi Utama, Mirza Hippy, mengatakan bahwa proyek energi terbarukan pertama TOBA saat ini difokuskan pada pembangunan PLTS berkapasitas 46 megawatt peak (MWp) di Batam, yang tengah dalam tahap konstruksi. Proyek tersebut memiliki capital expenditure atau nilai investasi sebesar US$ 29 juta, setara dengan sekitar Rp481 miliar.
Ia menjelaskan, pendanaan proyek PLTS di Batam itu diperoleh melalui pembiayaan bank dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Adapun struktur kepemilikan proyek ini, TOBA memiliki 49% saham, sementara sisanya 51% dikuasai oleh Nusantara Power melalui anak usahanya, Nusantara Renewables.
“Jadi memang secara buku itu tidak terkonsolidasi ke buku TBS, namun kami menggunakan pengalaman ini untuk lebih membangun lagi pipeline kami ke depan karena memahami kami juga baru, ini proyek kedua kami di renewables,” ucap Mirza kepada wartawan di Jakarta, Selasa (28/10).
Lebih lanjut, Mirza menjelaskan, pengembangan energi terbarukan TOBA dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kapasitas dan pengalaman perusahaan. Ia menyebut TOBA memulai bisnis renewables dari skala kecil melalui proyek PLTS berkapasitas 6 MW di Lampung. Korporasi kemudian melanjutkan ke proyek yang lebih besar, yakni PLTS berkapasitas 46 MWp di Batam.
“Ini juga kami gunakan sebagai pengalaman untuk kami lebih memperkuat, memperkaya dari sisi teknis untuk kami lebih bisa mengembangkan lagi proyek-proyek kita ke depan,” ucapnya.
Pengelolaan Limbah Kontributor Pendapatan Terbesar
PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) membukukan pendapatan konsolidasi sebesar US$ 288,17 juta atau setara Rp 4,78 triliun hingga kuartal ketiga 2025. Angka itu turun 14% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama sebelumnya sebesar US$ 336 juta atau sekitar Rp 5,59 triliun pada 2024.
Segmen pengelolaan limbah atau waste to energy (WtE) menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan TOBA, dengan porsi sekitar 39% dari total pendapatan. Jumlah ini melonjak 1.048% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain itu, bisnis kendaraan listrik dan energi terbarukan juga terus mencatat pertumbuhan positif dalam portofolio non-batubara.
Direktur TBS Energi Utama Juli Oktarina menyatakan bahwa 2025 menjadi momentum penting bagi perusahaan untuk memperkuat fondasi bisnis hijau. Selain itu kinerja TBS tetap tangguh meskipun dihadapkan pada fluktuasi harga batu bara.
“EBITDA kami tetap kuat, terutama berkat kontribusi segmen pengelolaan limbah dan kendaraan listrik. Ini menunjukkan bahwa portofolio hijau TBS tidak hanya tumbuh, tetapi juga semakin matang secara operasional,” kata Juli dalam paparan kinerja kuartal III 2025, Selasa (28/10).
Di samping itu, TOBA membukukan rugi bersih sebesar US$ 127,37 juta atau sekitar Rp 2,12 triliun. Kerugian ini terutama disebabkan oleh rugi non-tunai yang bersifat satu kali (non-recurring), berasal dari divestasi dua pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) serta biaya akuisisi bisnis hijau.
Hingga kuartal ketiga 2025, posisi kas TOBA mencapai US$ 89 juta, meningkat dari US$ 68 juta pada akhir 2024. Kenaikan tersebut didorong oleh hasil divestasi serta penerbitan Sukuk Wakalah dan Obligasi Berkelanjutan I Tahun 2025.
