Sri Mulyani Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Tahun Ini Jadi 1%

Agatha Olivia Victoria
18 Juni 2020, 20:50
pertumbuhan ekonomi, sri mulyani,
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini paling tinggi hanya mencapai 1%, namun menargetkan ekonomi kembali tumbuh 4,5-5,5% pada 2021.

Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini hanya akan berada di kisaran 0,4% sampai 1%. Penyebabnya yaitu kemungkinan kontraksi ekonomi yang cukup dalam pada kuartal II 2020.

"Sebelumnya kami perkirakan upper-nya 2,3%, sekarang kami revisi agak turun ke 1%," kata Sri Mulyani dalam rapat bersama Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Kamis (18/6).

Selain outloook pertumbuhan ekonomi, inflasi tahun ini diproyeksikan antara 2% hingga 4%. Kemudian tingkat bunga SPN 3 bulan 3,5-4,5%, dan nilai tukar rupiah di kisaran Rp 14.900-15.500 per dolar AS.

Harga minyak mentah Indonesia diproyeksikan berada pada US$ 30-35 per barel. Lalu lifting minyak 695-725 ribu barel per hari (bph) dan lifting gas 990 ribu sampai 1,05 juta barel setara minyak per hari.

(Baca: Kuartal II Kontraksi, BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2020 Hanya 1,9%)

Adapun pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2021 akan meningkat. Dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2021, pertumbuhan ekonomi dipatok pada kisaran 4,5-5,5%.

"Pertumbuhan ekonomi ini tentu sangat tergantung pada situasi semester kedua 2020 yang kami harapkan menjadi awal pemulihan ekonomi," kata Sri Mulyani.

Sementara, inflasi ditargetkan terjaga pada rentang 2% hingga 4% dan tingkat bunga SPN 3 bulan berubah menjadi tingkat suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang ditargetkan pada level 6,67-9,56%. Serta nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditargetkan pada kisaran Rp 14.900 - Rp 15.300 per dolar AS.

Kemudian harga minyak mentah Indonesia diprediksi berada di kisaran US$ 40-50 per barel, dengan lifting minyak bumi 677.000-737.000 bph, dan lifting gas bumi ditargetkan berada di rentang 1,085 juta hingga 1,173 juta barel setara minyak per hari.

(Baca: Proyeksi Suram Ekonomi Indonesia Kuartal II dan Dampak Turunannya)

Sementara itu, pemerintah mematok defisit APBN 2021 di kisaran 3,21-4,17% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit tersebut nantinya akan dibiayai melalui pembiayaan anggaran, baik melalui utang netto dan investasi.

Target pembiayaan pada KEM-PPKF 2021 ditetapkan berkisar antara 3,21-4,17% terhadap PDB. Rinciannya, utang netto di kisaran 3,31-4,57% dan investasi di investasi 0,1-0,4%. Target defisit fiskal didapat dari selisih belanja negara ditetapkan di kisaran 13,11-15,17% dan pendapatan negara yang berada di kisaran 9,9-11%.

Sedangkan, pendapatan negara pada 2021 akan terdiri dari penerimaan perpajakan yang ditargetkan di kisaran 8,25-8,63% terhadap PDB, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) di kisaran 1,6-2,3%, dan hibah 0,05-0,07%.

Kemudian, target belanja negara terdiri dari belanja pusat dengan besaran di kisaran 8,81-10,22%, serta transfer ke daerah dan dana desa 4,3-4,85%. Belanja negara pada tahun depan akan fokus pada tiga hal utama yakni reformasi kesehatan, reformasi anggaran, dan peningkatan efektivitas program perlindungan sosial.

(Baca: Sri Mulyani Ramal Ekonomi Kuartal II Minus 3%, Apakah RI akan Resesi?)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...