Rupiah Menguat Lagi Ditopang Meredanya Kecemasan terhadap Inflasi AS

Agatha Olivia Victoria
25 Mei 2021, 10:17
rupiah, nilai tukar rupiah, inflasi AS, data as
Arief Kamaludin|KATADATA
Rupiah pagi ini menguat bersama mayoritas mata uang Asia lainnya.

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,21% ke level Rp 14.325 per dolar AS pagi ini, Selasa (25/5). Rupiah perkasa seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan kenaikan inflasi Negeri Paman Sam.

Mengutip Bloomberg, rupiah bergerak melemah dari posisi pembukaan ke Rp 14.338 per dolar AS hingga pukul 10.00 WIB, meski masih menguat dibanding posisi kemarin.  Mayoritas mata uang Asia juga menguat pada pagi hari ini.

Yen Jepang naik 0,01%, dolar Hong Kong 0,02%, dolar Singapura 0,04%, dolar Taiwan 0,16%, won Korea Selatan 0,33%, yuan Tiongkok 0,08%, dan ringgit Malaysia 0,03%. Sementara peso Filipina melemah 0,03%, rupee India 0,17%, dan baht Thailand 0,08%.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra mengatakan, rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp 14.300 per dolar AS seiring perbaikan sentimen pasar terhadap aset berisiko, dengan potensi resisten di kisaran Rp 14.380 per dolar AS. Perbaikan sentimen ini terlihat dari kenaikan indeks saham AS semalam. Pagi ini, indeks saham Asia seperti Nikkei dan Kospi juga terlihat menguat.

"Meredanya kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi mendorong pelemahan indeks dolar AS dan penurunan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Selasa (25/5

Sejumlah data ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan telah membantu meredam kekhawatiran investor. Yield surat utang Negeri Paman Sam turun ke bawah 1,6%, dari sebelumnya di kisaran 1,62%. Sementara, indeks dolar AS masih bergerak di kisaran 89,7.

Dari dalam negeri, Ariston menilai bahwa pasar menunggu hasil rapat dewan gubernur Bank Indonesia yang kemungkinan tidak mengubah kebijakan suku bunganya. "Hal ini tentu bisa mendukung penguatan nilai tukar rupiah," ujar dia.

Suku bunga acuan BI saat ini berada di level 3,5%. Angka tersebut merupakan yang terendah sepanjang sejarah.

Reuters melaporkan, pasar ekuitas global naik pada hari Senin (24/5), sedangkan dolar AS diperdagangkan mendekati posisi terendah empat bulan terhadap mata uang utama lainnya. Ini karena investor mengamati pembacaan inflasi AS yang akan datang untuk panduan kebijakan moneter.

Pelaku pasar bersiap-siap untuk data konsumsi pribadi AS,  target inflasi pilihan Bank Sentral, The Federal Reserve yang akan dirilis pada Kamis (27/5) waktu setempat. Potensi pengurangan pembelian aset akan diperhatikan dalam menghadapi data ekonomi yang kuat.

Adapun yield obligasi AS tenor 10 tahun merosot ke posisi terendah satu minggu, sementara emas berangsur naik lebih tinggi. "Pasar menarik nafas dalam-dalam dan mulai menghadapi inflasi," kata Anggota Pengelola Great Hill Capital di New York Thomas Hayes.

Semua mata, menurut dia, akan tertuju pada rilis data tersebut setelah pertumbuhan yang kuat yang ditunjukkan oleh survei sektor jasa global pada akhir pekan lalu. Angka inflasi inti yang tinggi akan membunyikan bel alarm bagi Fed.

"Pasar takut bahwa Fed akan melakukan tapering, tetapi tampaknya tidak demikian dengan harga komoditas yang stabil," ujar Hayes.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Agatha Olivia Victoria
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...