Rupiah Perkasa ke 14.256/US$ Imbas Menghijaunya Bursa Saham Global
Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,02% ke level Rp 14.270 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot hari ini (3/9). Penguatan rupiah imbas melemahnya dolar AS seiring membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko yang terlihat dari menghijaunya bursa saham global.
Mengutip Bloomberg, mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi. Yen Jepang menguat 0,05%, bersama dolar Taiwan 0,03%, won Korea Selatan 0,43%, peso Filipina 0,27%, rupee India 0,03% dan ringgit Malaysia 0,09%. Sementara yuan Tiongkok melemah 0,07% bersama bath Thailand 0,05%, dolar Singapura 0,03% dan dolar Hong Kong 0,01%
Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah menguat ke kisaran Rp 14.230 per dolar AS, dengan potensi resistance di kisaran Rp 14.300. Penguatan didorong membaiknya sentimen pasar terhadap aset berisiko global, tercermin dari membaiknya indeks saham global.
"Membaiknya sentimen pasar terhadap risiko dengan pergerakan positif indeks saham global kemarin juga membantu pelemahan dolar AS," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (3/9).
Indeks saham utama AS terpantau kompak menguat pagi ini. Indeks Dow Jones Industrial menguat 0,37%, sementara dalam sebulan terakhir sudah naik 1,74%. Begitu juga S&P 500 yang menguat 0,28% dan secara bulanan naik 2,57%, serta Nasdaq Composite menguat 0,14% dan sebulan terakhir juga menguat 3,86% .
Bursa saham di Eropa juga terus menguat. Indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,20% pagi ini dan sudah naik 0,82% dalam sebulan. Indeks CAC 40 Perancis menguat 0,06% atau 0,58% secara bulanan. Indeks Dax Jerman menguat 0,10% atau 1,75% secara bulanan. Selain itu, FTSE MIB Italia juga menguat 0,20% atau 3,46% secara bulanan, sedangkan indeks Ibex 35 Spanyol melemah 0,11% pagi ini tetapi 2,38% secara bulanan.
Mayoritas indeks saham Asia Pasifik juga menguat pagi ini, kecuali di Hong Kong dan Singapura. Indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,34% pagi ini atau 3,61% secara bulanan. Shanghai SE Composite menguat 0,16% atau 4,49% secara bulanan, dan indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,46% atau 0,44% secara bulanan.
Indeks Nifty 50 India pagi ini juga menguat 0,92% atau melonjak 6,84% secara bulanan. Indeks ASX 200 Australia menguat 0,46% atau 0,61% secara bulanan. FTSE Malaysia yang menguat 0,16% pagi ini atau 5,63% secara bulanan. Demikian pula dengan indeks Taiex Taiwan yang naik 0,62% tetapi terkoreksi 0,73% secara bulanan.
Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong dan indeks Strait Times pagi ini melemah masing-masing 0,26% dan 0,32%. Keduanya juga terkoreksi masing-masing 0,66% dan 2,23% secara bulanan.
Kendati berpeluang melanjutkan penguatan, Ariston juga menilai penguatan rupiah akan terbatas dengan masih kuatnya sentimen tapering off The Fed. Pasar tampaknya masih menunggu laporan terbaru data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis malam ini untuk mengkonfirmasi pernyataan Gubernur Fed sebelum-sebelumnya.
"Penantian terhadap data ini mungkin juga yang membuat pergerakan nilai tukar rupiah dalam kisaran sempit," kata Ariston.
Departemen Ketenagakerjaan AS dijadwalkan merilis jumlah tenaga kerja baru di sektor non pertanian malam ini. Dow Jones memperkirakan penambahan tenaga kerja baru hanya sebanyak 720 ribu pekerja atau turun 5,2% dari bulan sebelumnya.
Sementara, Gubernur Fed Jerome Powell berulang kali menjelaskan bahwa bank sentral akan mempertimbangkan kondisi pemulihan ketenagakerjaan dan inflasi sebagai pertimbangan untuk melakukan tapering off alias pengetatan stimulus. Powell akhir pekan lalu memperjelas adanya rencana Fed untuk mengurangi pembelian obligasi pemerintah akhir tahun ini, namun pembicaraan terkait kenaikan suku bunga tampaknya masih ditahan hingga tahun depan.
