OJK Peringatkan Tren Kenaikan NPL Bank, Tertinggi sejak Januari 2019

Abdul Azis Said
15 September 2021, 20:15
npl, npl bank, npl kredit, restrukturisasi kredit, OJK, perbankan
ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/hp.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, ada beberapa sektor yang mencatatkan NPL tinggi karena terdampak berat akibat pandemi Covid-19.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total penyaluran kredit yang direstrukturisasi perbankan  menunjukkan penurunan menjadi Rp 778,9 triliun pada Juli 2021. Namun,a keuangan  menyoroti risiko nonperforming loan (NPL) di perbankan yang kembali meningkat. 

"Ada downside risk yang perlu diperhatikan, antara lain non-performing loan perbankan. Angkanya sedikit meningkat pada Juli menjadi 3,35% dari bulan sebelumnya," kata Ketua OJK Wimboh Santoso dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (15/9).

Berdasarkan bahan paparannya, rasio NPL Juli tercatat sebagai yang tertinggi sejak Januari 2019. NPL perbankan sempat menyentuh level yang sama pada Mei lalu tapi kembali turun pada Juni 2021 menjadi 3,24%.

Ia mengatakan ada beberapa sektor yang mencatatkan NPL tinggi karena terdampak berat akibat pandemi Covid-19. Sektor pertambangan memiliki rasio NPL tertinggi yakni 5,62%, sedangkan rumah tangga terpantau menjadi salah satu sektor dengan NPL terendah, yakni hanya 2,16%.

Adapun OJK baru saja memperpanjang kembali kebijakan restrukturisasi kredit hingga Maret 2023. Hingga Juli 2021, total kredit yang tengah direstrukturisasi perbankan mencapai Rp 778,9 triliun kepada 5,01 juta debitur. Ini terdiri atas restrukturisasi kepada 3,59 juta UMKM dengan nilai Rp 285,17 triliun dan 1,43 juta non UMKM dengan nilai Rp 493,74 triliun. 

Meski restrukturisasi perbankan diperpanjang, Wimboh terus mengingatkan agar perbankan mempertebal pencadangan. "Sehingga nanti pada saat harus dinormalkan, neracanya tidak terganggu karena pencadangannya sudah cukup untuk menghindari cleaf effect," ujar Wimboh.

Wimboh memastikan kondisi perbankan saat ini  masih sangat sehat. Tingkat permodalan industri perbankan cukup besar,  terlihat dari rasio capita to adequacy ratio (CAR) yang mencapai 24,67%. Posisi ini disebut tidak pernah mengalami penurunan. Kondisi ini juga dinilai dapat membantu perbankan kedepannya untuk memiliki ruang lebih luas menyalurkan kredit.

Tak hanya perbankan, menurut Wimboh, industri keuangan nonbank juga masih berada dalam kondisi sehat. Non-performing financing di perusahaan pembiayaan pada Juli 3,95% berkat tingkat wanprestasi pengembalian di sektor ini yang berada di level rendah 1,82%. Meski demikian, piutang pembiayaan pada Juli masih terkontraksi 11,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu kendati ada dalam tren perbaikan sejak April 2021. 

Wimboh mengatakan, kondisi yang berbeda terjadi pada fintech. Bagian dari industri pembiayaan ini mencatatkan penyaluran pinjaman tumbuh dua kali lipat dibandingkan Juli 2020 mencapai Rp 9,9 triliun. 

Sementara itu, industri asuransi juga berada dalam kondisi sehat, tercermin dari rasio risk based capital (RBC) juga masih di atas batas aman. RBC asuransi Jiwa pada Juli 2021 mencapai 653,74%, sedangkaan  asuransi umum sebesar 346,73%.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...