Bank Dunia Revisi Garis Kemiskinan, Orang Miskin RI Bertambah 13 Juta

Abdul Azis Said
30 September 2022, 18:42
kemiskinan, orang miskin, bank dunia
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU
Ilustrasi. Jumlah orang miskin di Indonesia bertambah 13 juta dengan perhitungan baru Bank Dunia.

Bank Dunia memperkirakan jumlah orang miskin Indonesia naik menjadi 67 juta orang dengan model perhitungan baru yang mulai berlaku musim gugur tahun ini. Pemantauan kemiskinan versi Bank Dunia kini menggunakan paritas daya beli (PPP) 2017, dari sebelumnya PPP 2011.

Bank Dunia memiliki tiga versi garis kemiskinan berdasarkan tingkatkan kategori negara, yakni garis kemiskinan ekstrim yang merupakan median dari garis kemiskinan di negara-negara berpendapatan rendah, garis kemiskinan kelompok pendapatan menengah bawah, dan garis kelompok menengah atas. 

Advertisement

Garis kemiskinan ekstrim naik dari US$ 1,9 berdasarkan PPP 2011 menjadi US$ 2,15 per orang per hari berdasarkan PPP 2017. Garis kemiskinan pendapatan menengah-bawah naik dari US$ 3,2 menjadi US$ 3,65, sedangkan garis kemiskinan pendapatan menengah atas naik dari US$ 5,5 menjadi US$ 6,85. 

Bank Dunia menyebut Cina dan Indonesia menjadi dua negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik yang paling signifikan berdampak pada perubahan model perhitungan PPP 2017. Jika menggunakan perubahan garis kemiskinan ekstrim, jumlah orang miskin kedua Indonesia dan Cina relatif terbatas karena angka kemiskinan ekstrim di kedua wilayah ini sebenarnya sudah sangat rendah. 

Jika menggunakan level garis kemiskinan kelompok menengah bawah, jumlah orang miskin di Cina bertambah 18 juta menjadi 42 juta, sedangkan orang miskin di Indonesia bertambah 13 juta orang menjadi 67 juta orang. Sementara jika menggunakan garis kemiskinan kelompok menengah atas jumlah orang miskin Cina bertambah 115 juta orang menjadi 348 juta orang, sedangkan Indonesia bertambah 27 juta orang menjadi 168 juta orang. 

Dalam catatan tersebut, Bank Dunia menyebut perubahan dari PPP 2011 menjadi PPP 2017 didorong beberapa faktor. "Faktor yang paling penting adalah perubahan tingkat harga di negara Asia Timur dan Pasifik (EAP) reaktif terhadap AS. Harga yang relatif tinggi menyiratkan penurunan daya beli sehingga menghasilkan tingkat kemiskinan yang lebih tinggi," kata Bank Dunia dalam laporannya dikutip Jumat (30/9).

Secara keseluruhan, kenaikan pada garis kemiskinan tersebut mendorong jumlah orang miskin Asia Timur dan Pasifik meningkat 33 juta jika menggunakan batas kemiskinan versi kelompok menengah bawah.  Sementara jika menggunakan level garis kemiskinan mengikuti kelompok menengah atas, jumlah orang miskin baru di kawasan naik 174 juta orang.

"Perubahan ini didorong oleh peningkatan kemiskinan di dua negara terpadat di kawasan ini, Cina dan Indonesia. Kedua negara ini bersama-sama menyumbang lebih dari 85% peningkatan daerah dalam jumlah penduduk miskin," kata Bank Dunia.

Grafik:

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement