Dibuka Melemah, Rupiah Berpotensi Menguat Didorong Faktor Berikut
Rupiah melemah 27 poin ke level Rp 14.929 per dolar AS di pasar spot pagi ini, Selasa (11/4). Namun analis menyebut ada potensi penguatan nilai tukar hari ini seiring ekspektasi bank sentral AS, The Fed tak lagi agresif dan penguatan pasar saham Asia pagi ini.
Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik menguat dari posisi pembukaan ke arah Rp 14.909 pada pukul 09.20 WIB, atau melemah 0,05% dibandingkan penutupan kemarin.
Beberapa mata uang Asia lainnya juga melemah terhadap dolar AS pagi ini, dengan penurunan terdalam dialami peso Filipina 0,46%. Sebaliknya, baht Thailand, won Korea Selatan, yen Jepang, dolar Singapura dan Hong Kong berhasil menguat.
Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra memperkirakan rupiah berpotensi menguat hari ini seiring ekspektasi pasar terhadap bank sentral AS, The Fed yang tak akan lagi menaikkan bunga agresif dan bursa saham Asia yang menghijau pagi ini.
Rupiah berpeluang menguat ke arah support di kisaran Rp 14.850, dengan potensi resisten di sekitar Rp 14.950 per dolar AS. Sejumlah data mengindikasikan pelemahan ekonomi AS. Ini diantaranya data manufaktur mulai menurun, data tingkat keyakinan konsumen, data inflasi mulai menurun, ditambah tekanan dari krisis perbankan sebelumnya.
"Meskipun pasar berekspektasi bahwa pada rapat berikutnya The Fed berpeluang menaikan suku bunga acuannya sebesar 25 bps, tapi pelaku pasar cukup lega karena secara keseluruhan, The Fed berpotensi tidak akan menerapkan kebijakan pengetatan yang lebih agresif. Ekspektasi tersebut bisa menopang penguatan rupiah terhadap dolar AS," kata Ariston dalam catatannya pagi ini, Selasa (11/4).
Selain itu, sentimen pasar terhadap aset berisiko terlihat cukup baik di pagi ini. Hal ini ditunjukkan oleh indeks saham Asia terihat positif yang juga bisa mendukung penguatan rupiah. Indeks Nikkei 225 Jepang, Hang Seng Hong Kong dan Kospi Korea Selatan terpantau menguat lebih dari 1% pagi ini.
Dari dalam negeri, kondisi ekonomi Indonesia masih solid. Salah satunya ditopang tingkat inflasi masih terkendali, turun di bawah 5% pada bulan lalu. Ariston menyebut, pelaku pasar kini masih menunggu data inflasi terbaru AS yang akan dirilis pada hari Rabu malam.
Berbeda, analis DCFX Lukman Leong memperkirakan rupiah bakal melemah seiring dimulainya perdagangan AS pasca libur panjang Paskah akhir pekan lalu. Rupiah kemungkinan bergerak di rentang Rp 14.900-15.000 per dolar AS.
"Investor yang telah kembali dari liburan panjang akhir pekan merespon data tenaga kerja NFP yang kuat pada hari Jumat lalu dengan memicu naiknya ekspektasi akan suku bunga The Fed ke depannya," kata Lukman dalam catatannya.
Data NFP menunjukkan penyerapan tenaga kerja AS non-pertanian bulan lalu hanya sebanyak 236 ribu, di bawah ekspektasi pasar dan menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, angka pengangguran menurun ke 3,5% dan gaji karyawan terus naik mengindikasikan pasar tenaga kerja AS masih ketat.
