Goldman Sachs Naikkan Kemungkinan AS Alami Resesi, Dampak Kebijakan Tarif Trump
Bank investasi Goldman Sachs memperkirakan Amerika Serikat berpeluang lebih besar mengalami resesi dalam 12 bulan ke depan. Prediksi ini dipicu ketidakpastian kebijakan perdagangan, melemahnya kepercayaan konsumen dan bisnis, serta pertumbuhan yang rendah.
Inflasi di AS juga diperkirakan lebih tinggi pada 2025 karena meningkatnya tarif perang dagang. Semua ini menandai kekhawatiran pasar atas rencana Presiden AS Donlad Trump melakukan perang tarif lebih agresif pada tahun ini.
Goldman Sachs, melansir dari Investing.com, Minggu (30/3), melihat peluang sebesar 35% resesi di AS akan terjadi dalam 12 bulan ke depan. Angka prediksi ini naik dari sebelumnya 20%.
Peningkatan estimasi ini mencerminkan dasar pertumbuhan yang lebih rendah, serta penurunan tajam kepercayaan bisnis dan rumah tangga. "Selain itu, pernyataan pejabat Gedung Putih menunjukkan keinginan besar untuk menoleransi pelemahan ekonomi jangka pendek demi mengejar kebijakan mereka," tulis analisis Goldman Sachs.
Bank tersebut menaikkan asumsi AS akan menaikkan tarif dagang sebesar 15% pada 2025. Tarif yang lebih tinggi akan memicu peningkatan inflasi. Negara itu kemungkinan akan mengalami inflasi inti sebesar 3,5% pada akhir 2025, naik dari level saat ini dan jauh dari target tahunan bank sentral The Federal Reserve (The Fed) sebesar 2%.
Pertumbuhan produk domestik bruto AS pada 2025, menurut Goldman Sachs, sebesar 1%. Angkanya turun dari perkiraan sebelumnya 1,5%.
Presiden Trump diperkirakan akan mengumumkan sejumlah tarif baru pada 2 April 2025. Tanggal tersebut disebut sebagai liberation day alias hari pembebasan. Presiden AS ke-47 itu akan menguraikan tarif timbal balik terhadap mitra dagang utama negaranya. Laporan terkini menunjukkan, tarif akan mencapai 20% secara keseluruhan.
