Rupiah Anjlok Hingga Rp 17.000 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan mata uang rupiah terhadap dollar AS hingga menyentuh level Rp 17.006 per US$ pada Jumat (4/4) terjadi karena beberapa faktor, termasuk data fundamental global.
Ibrahim mengatakan terdapat beberapa data fundamental global yang sangat mempengaruhi pergerakan mata uang rupiah yang tertekan cukup dalam terhadap mata uang Amerika Serikat.
“Salah satunnya adalah rilis data tenaga kerja AS yang di luar ekspetasi ,” ujar Ibrahim dikutip dari rekaman suara yang diterima, Minggu (6/4).
Faktor lainya adalah, pernyataan Bank sentral Amerika Serikat atau The Fed yang menutup kemungkinan untuk menurunkan suku bunga ditengah kondisi ekonomi global dan tingginya inflasi. Kondisi tersebut membuat rencana The Fed untuk melakukan penyesuaian suku bunga sebanyak 3 kali pada tahun 2025 sebesar 75 basis poin kemungkinan tidak akan terjadi.
“Sehingga yang tadinya The Fed akan menurunkan suku bunga pada tahun 2025 sebanyak 3 kali sebesar 75 basis poin ada kemungkinan besar ini hanya mimpi dan membuat indeks dollar akan menguat signifikan,” ucapnya.
Ibrahim mengatakan, pelemahan mata uang Rupiah juga dipengaruhi adanya kebijakan pengenaan tarif impor oleh Presiden AS, Donald Trump kepada beberapa negara di dunia termasuk Indonesia.
Selain itu, faktor geopolitik di Timur Tengah dan Eropa yang terus memanas, juga menjadi faktor mata uang rupiah kembali lagi mengalami pelemahan yang cukup signifikan.
Ia memprediksi bahwa Bank Indonesia (BI) akan melakukan melakukan triple intervensi pada Senin (7/4) mendatang khususnya di pasar valuta asing obligasi perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).
"Tetapi kemungkinan besar intervensi tersebut itu pun juga tidak akan terlalu berpengaruh, terlalu besar. Karena ada kemungkinan pada saat pembukaan pasar di hari Senin rupiah akan tembus level Rp17.050," ungkapnya.
