Ketegangan AS – Venezuela Memuncak, Pasar Global Membaca Risiko Ekonomi Baru

Rahayu Subekti
5 Januari 2026, 17:21
Presiden Amerika Serikat memamerkan foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang ditangkap AS. Foto: Instagram/White House
Instagram/White House
Presiden Amerika Serikat memamerkan foto Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang ditangkap AS. Foto: Instagram/White House
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ketegangan geopolitik global kembali mendapat bab baru. Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela yang memburuk bukan hanya menjadi isu bilateral, tetapi ikut memperpanjang daftar sumber ketidakpastian yang kini membayangi pasar keuangan dunia.

Ketegangan AS dan Venezuela makin menjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam sebuah operasi pada Sabtu (3/1). Meski skalanya belum menyamai konflik geopolitik lain, eskalasi AS-Venezuela muncul di saat dunia sudah dibebani berbagai risiko seperti perlambatan ekonomi global.

Sentimen Pasar Berubah

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M. Rizal Taufikurahman menilai isu dan ketegangan AS dan Venezuela menambah lapisan baru ketidakpastian global. Konflik ini bisa langsung mengganggu sistem keuangan global.

Namun, Rizal mengatakan pasar cenderung merespons bukan pada peristiwa tunggal, melainkan pada akumulasi risiko. “Dalam konteks ini, konflik AS–Venezuela memperkuat sentimen risk off, terutama karena terkait erat dengan isu energi, sanksi ekonomi, dan posisi geopolitik di Amerika Latin yang kembali memanas,” kata Rizal kepada Katadata.co.id, Senin (5/1).

Rizal menjelaskan, ketidakpastian ini meningkatkan volatilitas harga komoditas terutama minyak. Selain itu juga memperlebar kehati-hatian investor global terhadap aset negara berkembang.

Risiko Politik Global

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan, ketidakpastian global cenderung meningkat. Terlebih jika konflik geopolitik berubah menjadi aksi sepihak yang lebih keras dan membuka ruang aksi balasan, perluasan sanksi, atau penularan ketegangan ke kawasan lain.

Dalam konteks Venezuela dan AS, Josua melihat pasar justru memberi sinyal bahwa guncangannya lebih banyak dibaca sebagai risiko politik global ketimbang krisis pasokan energi. “Dimana harga minyak terindikasi tidak bereaksi besar karena pasar minyak dunia sedang berlebih pasokan dan peran produksi Venezuela sudah relatif kecil,” kata Josua.

Sementara itu, Josua mengatakan harga emas melonjak sebagai cerminan naiknya ketidakpastian. Begitu juga adanya kecenderungan pelaku pasar mencari aset yang dianggap paling aman.

“Kondisi seperti ini biasanya membuat pelaku pasar lebih sensitif terhadap berita geopolitik, sehingga pergerakan harga aset dan komoditas bisa lebih mudah naik turun walau fundamental pasokan permintaan energi tidak berubah drastis,” ujar Josua.

Risiko Struktural Baru

Di sisi lain, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi mengatakan ketidakpastian global meningkat karena krisis AS-Venezuela sudah melampaui sanksi dan retorika. Konflik ini berubah menjadi aksi militer langsung yang menghasilkan penahanan kepala negara dan klaim AS akan menjalankan Venezuela selama transisi.

“Langkah ini memperluas ketidakpastian pada tiga lapis sekaligus norma kedaulatan, risiko eskalasi lintas kawasan, dan volatilitas pasar,” kata Syafruddin.

Belum lagi, Reuters melaporkan Trump ikut melontarkan ancaman tindakan lanjutan dan memunculkan kekhawatiran geopolitik yang lebih luas. Pasar juga membaca sinyal itu sebagai risiko struktural yang terlihat dari harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai.

Sementara reaksi aset berisiko bercampur. Hal ini menurutnya menandakan investor menilai konflik sebagai sumber ketidakpastian baru meski pasokan minyak global masih memadai dalam jangka pendek.

Ketegangan AS dan Venezuela ini semakin mempertegas pola yang penting yakni pasar global semakin sensitif terhadap dinamika geopolitik. Setiap eskalasi dapat dengan cepat mengubah arah sentimen dan meningkatkan volatilitas.

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rahayu Subekti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...