Gejolak Harga Minyak Tekan APBN, Purbaya Pastikan Tetap Penuhi Utang Whoosh
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan melambungnya harga minyak dunia yang menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak berdampak pada komitmen pemerintah untuk membayar utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh.
“Enggak apa-apa, kan utang kita enggak gede-gede amat,” kata Purbaya di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (9/3).
Kendati demikian, bendahara negara ini belum merincikan berapa banyak APBN akan menanggung utang proyek Whoosh tersebut. “Nanti kita lihat bagaimana,” kata dia.
Harga minyak dunia sempat menembus US$ 110 per barel, pada Senin (9/3), akibat perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang berujung pada penutupan Selat Hormuz, jalur strategis yang memasok 20% konsumsi minyak mentah dunia.
Sebelumnya, Purbaya mengatakan kemungkinan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk membayar utang tersebut masih 50%.
“Seingat saya sih masih fifty-fifty, nanti saya akan diskusikan,” kata Purbaya di Financial Club Jakarta, Kamis (12/2).
Di sisi lain, pada Februari lalu, Istana Kepresidenan mengatakan pembahasan mengenai skema pembayaran utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung Whoosh telah memasuki tahap finalisasi.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, memberikan sinyal pembayaran utang Whoosh akan menggunakan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Prasetyo Hadi mengatakan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) kini sedang bernegosiasi dengan mitra Cina terkait teknis pembayaran utang proyek kereta cepat.
“Laporan terakhir rapat di Danantara, masih ada finalisasi. Sekarang proses negosiasi atau pembicaraan teknisnya itu langsung dipimpin oleh Pak Rosan sebagai CEO Danantara,” kata Prasetyo seusai Konferensi Pers Stimulus Ekonomi Diskon Tarif Transportasi Idul Fitri 2026 di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, pada Selasa (10/2).
Utang Whoosh Bakal Dicicil
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya mengatakan negara akan bertanggung jawab terkait penyelesaian utang kereta cepat Whoosh. Pemerintah, menurut dia, mampu membayar kewajiban pembayaran proyek senilai Rp 116 triliun dengan mencicilnya sebesar Rp 1,2 triliun per tahun.
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) selaku operator Whoosh adalah perusahaan patungan antara konsorsium perusahaan perkeretaapian Cina melalui Beijing Yawan HSR Co. Ltd dan konsorsium BUMN yang membentuk PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).
Komposisi pemegang saham PSBI yaitu PT Kereta Api Indonesia 51,37%, PT Wijaya Karya 39,12%, PT Perkebunan Nusantara I 8,30%, dan PT Jasa Marga 1,21%. Adapun komposisi pemegang saham Beijing Yawan HSR Co. Ltd yaitu CREC 42,88%, Sinohydro 30%, CRRC 12%, CRSC 10,12%, dan CRIC 5%.
