Pejabat The Fed Khawatir Dampak Perang AS-Iran, Sinyal Kenaikan Suku Bunga?

Image title
27 Maret 2026, 13:13
The Fed, inflasi, harga minyak, Perang Iran vs AS-Israel
123rf
The Fed (Federal Reserve)
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Tiga pejabat Federal Reserve (The Fed) menyatakan kekhawatiran yang semakin besar terhadap prospek ekonomi Amerika Serikat (AS) akibat perang di Timur Tengah.  Salah satu di antaranya mengatakan lonjakan harga minyak telah mengubah keseimbangan risiko untuk saat ini, sehingga inflasi menjadi perhatian yang lebih besar dibandingkan lapangan kerja.

“Saya berpendapat risiko inflasi saat ini lebih besar sebagai akibat dari perang Iran. Terkait pasar tenaga kerja, saya melihatnya dalam kondisi seimbang, tetapi rapuh,” kata Gubernur The Fed, Lisa Cook, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (27/3).

Cook tidak memberikan indikasi tentang bagaimana pendapatnya para para pembuat kebijakan harus merespons, meskipun dua rekannya mengatakan mereka lebih memilih untuk menahan suku bunga sambil menilai bagaimana perang dapat memengaruhi inflasi dan pertumbuhan.

“Masuk akal untuk meluangkan waktu guna menilai kondisi. Posisi kebijakan kami saat ini menempatkan kami pada posisi yang baik untuk tetap stabil sambil mengevaluasi data yang masuk,” kata Gubernur The Fed, Michael Barr.

Barr mengatakan, bahkan sebelum perang mendorong harga energi lebih tinggi, ia sudah khawatir dampak tarif terhadap inflasi dapat berlanjut melampaui target tahun ini.

“Jika perang berlangsung cukup lama, lonjakan harga energi dan komoditas lainnya dapat memiliki implikasi yang lebih luas terhadap harga maupun aktivitas ekonomi,” katanya. 

“Saya sangat khawatir bahwa kejutan harga tambahan dapat meningkatkan ekspektasi inflasi jangka panjang,” ujar Barr.

Lonjakan Harga Energi Berpotensi Mendongkrak Inflasi

Wakil Ketua The Fed, Philip Jefferson, juga mengatakan, lamanya konflik dan dampaknya terhadap harga energi akan menjadi faktor penting yang memengaruhi inflasi. 

“Periode panjang harga energi yang tinggi dapat mendorong kenaikan harga pada berbagai produk lainnya. Sebagai pembuat kebijakan, saya akan memantau apakah biaya yang lebih tinggi ini tertanam dalam harga di seluruh perekonomian,” ujarnya. 

Bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan 17–18 Maret 2026. Namun, The Fed mencatat ketidakpastian yang tinggi akibat perang. 

Bank sentral AS ini berusaha menyeimbangkan inflasi yang sekitar satu poin persentase di atas target 2% pada Januari dan diperkirakan akan naik lebih lanjut akibat lonjakan harga minyak. Sementara itu, pasar tenaga kerja menunjukkan sangat sedikit perekrutan selama setahun terakhir.

Cook mengatakan tarif telah mendorong inflasi menjauh dari target The Fed, dan situasi di Timur Tengah juga berpotensi memberikan dampak besar.

“Kita mungkin akan menghadapi kondisi ini lebih lama dari yang kita perkirakan. Jadi saya pikir saat ini keseimbangan risiko telah bergeser lebih ke arah inflasi,” kata Cook.

Gubernur The Fed, Stephen Miran, mengatakan ia masih percaya inflasi inti akan bergerak menuju 2% dalam 12 bulan ke depan. Miran juga mengatakan ada kemungkinan The Fed dapat mengurangi neraca sebesar US$ 1 triliun hingga US$ 2 triliun, tetapi memperingatkan bahwa banyak kebijakan pendukung diperlukan dan proses tersebut bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nuzulia Nur Rahmah

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...