Pertamina: Progres Kilang Balikpapan Hingga Akhir Juni Capai 35,7%

Proyek kilang Balikpapan terbagi dalam dua fase, dengan fase pertama ditargetkan selesai pada 2024.
Image title
30 Juni 2021, 16:21
kilang balikpapan, pertamina,
Arief Kamaludin | Katadata
Kilang Balikpapan.

Pertamina melaporkan progres proyek pengembangan Refinery Development Master Plan (RDMP) atau kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, saat ini telah mencapai 35,74%. Kilang Balikpapan termasuk dalam daftar proyek strategis nasional.

Corporate Secretary Subholding Refining & Petrochemical PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Ifki Sukarya menyampaikan bahwa Kilang Pertamina Balikpapan sebagai penanggung jawab proyek telah melaksanakan acceleration meeting dengan joint operation (JO) pelaksana proyek.

Proyek ini juga telah mencapai sejumlah tonggak pencapaian (milestones) di RDMP Balikpapan yakni pengiriman 3 unit boiler, dan alkylation reactor pada triwulan I 2021, serta operasional acceptance relocation flare dan pengiriman 5 unit steam turbine generator pada triwulan II.

“Demi kemandirian energi negeri dan untuk menjaga profitabilitas Kilang Balikpapan, RDMP tetap harus melaju cepat dengan langkah yang tepat. Kilang untung, bangsa untung,” kata Ifki dalam keterangan tertulis, Rabu (30/6).

Advertisement

Proyek RDMP Kilang Balikpapan terdiri dari dua fase. Pada fase I yang ditargetkan selesai 2024, Kilang Balikpapan akan meningkatkan kapasitas produksi Kilang RU V Balikpapan dari 260 ribu barel per hari (kbpd) menjadi 360 kbpd dan menghasilkan produk-produk berkualitas yang memenuhi standar Euro V.

Sedangkan pada fase II yang ditargetkan selesai 2026, proyek RDMP Balikpapan akan meningkatkan fleksibilitas pasokan minyak mentah. Sehingga kilang akan mampu mengolah minyak mentah yang lebih banyak tersedia di pasaran dengan harga lebih ekonomis, yaitu minyak mentah asam (sour crude) dengan kandungan belerang (sulfur) sebanyak 2%.

Dalam proyek ini, terdapat juga pengembangan sejumlah fasilitas pendukung di terminal Lawe-Lawe. Di antaranya yaitu pembangunan dua tangki penyimpanan minyak mentah berkapasitas masing-masing 1 juta barel.

Pembangunan fasilitas penerimaan pasokan minyak mentah dari kapal tanker yang disebut single point mooring (SPM) berkapasitas 320.000 deadweight tonnage (tonase bobot mati). Kemudian pembangunan fasilitas pipa darat dan lepas pantai dari SPM ke terminal Lawe-Lawe dan dari terminal Lawe-Lawe ke Kilang Balikpapan.

Reporter: Verda Nano Setiawan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait